FESTIVAL Raudhah Sis Aljufri 2025 tak hanya menjadi ajang budaya dan religi, tapi juga membuka peluang besar bagi penguatan ekonomi syariah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah, Rony Hartawan, mendorong Alkhairaat untuk tampil sebagai pelopor ekonomi syariah berskala global.
“Indonesia punya modal kuat. Kita negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Festival seperti ini bisa jadi titik temu pondok pesantren, pelaku UMKM, dan lembaga keuangan syariah untuk membangun jejaring dan inovasi,” terang Rony saat pembukaan Festival Raudhah di Kawasan Wisata Religi, Jalan Sis Aljufri, Palu, Rabu (9/4/2025) malam.
Ia menyebut, saat ini Sulteng memiliki 123 pesantren dengan lebih dari 12 ribu santri. Jumlah itu menurutnya adalah kekuatan ekonomi yang bisa dioptimalkan.
“Pesantren bukan sekadar pusat pendidikan, tapi juga agen pembangunan ekonomi. Melalui Hebitren (Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren), beberapa pesantren bahkan sudah ekspor dan bangun industri maritim. Ini bukti nyata,” ungkap Rony.
Dirinya meyakini, Alkhairaat sebagai institusi pendidikan Islam terbesar di Indonesia timur, punya peran strategis untuk memimpin ekosistem ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan.
“Alkhairaat sudah memiliki lebih dari 1.000 madrasah, puluhan pondok pesantren, perguruan tinggi, dan rumah sakit. Ini fondasi kuat untuk menggerakkan ekonomi umat,” tandas Rony.
Festival Raudhah sendiri merupakan bagian dari peringatan Haul Guru Tua ke-57.
Tahun ini, festival juga menghadirkan peluncuran program Sadar Wakaf Tunai untuk pembangunan madrasah Alkhairaat bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulteng, serta peluncuran buku dzikir dan doa karya Guru Tua.
Festival ini berlangsung meriah dengan pelbagai lomba seperti pidato, musikalisasi puisi, drama, jeppeng, dan paduan suara.
Sejumlah pameran kuliner, kerajinan, dan produk UMKM turut memeriahkan festival, termasuk partisipasi dari Dekranasda Palu. TAU/MUH













