DINAS penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Tengah meraih peringkat pertama nasional dalam capaian investasi hilirisasi tahun 2025.
Total nilai investasi yang berhasil dibukukan mencapai Rp110 triliun, mengungguli Maluku dan Jawa Barat.
Namun demikian, capaian tersebut belum sepenuhnya memenuhi target investasi yang ditetapkan sebesar Rp162,57 triliun.
Kepala DPMPTSP Sulteng, Moh Rifany Pakamundi, menjelaskan bahwa belum tercapainya target secara maksimal dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global serta tantangan regulasi yang berdampak pada iklim investasi.
“Walaupun target belum tercapai 100 persen karena faktor global dan regulasi, Sulawesi Tengah tetap memiliki fondasi industri yang sangat kuat, khususnya dalam pengembangan industri baterai dan produk turunannya,” ujarnya saat ditemui di Kantor DPMPTSP Sulteng, Senin (19/1/2026).
Ia menegaskan, Sulteng telah mengalami transformasi signifikan, dari daerah yang bergantung pada sektor pertambangan menjadi kawasan industri yang berkelanjutan.
“Sulteng sekarang bukan lagi sekadar daerah tambang, tetapi sudah menjadi daerah industri. Bahkan tanpa aktivitas tambang sekalipun, kita masih bisa bertahan dan tumbuh melalui sektor industri,” tegasnya.
Menurut Rifany, keberhasilan program hilirisasi di Sulawesi Tengah tidak terlepas dari fokus strategis pemerintah daerah dalam mendorong transformasi ekonomi hijau, penguatan sektor pertanian, serta pengembangan industri hilir berbasis sumber daya lokal.
DPMPTSP Sulteng pun optimistis iklim investasi di daerah ini akan terus tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata, terutama dalam penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah ekonomi, serta kesejahteraan masyarakat Sulteng.
Penulis : Rusdia | Editor : Muh Taufan













