Gaya Hidup

China Luncurkan Baterai Tahan 50 Tahun Tanpa Dicas

×

China Luncurkan Baterai Tahan 50 Tahun Tanpa Dicas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi baterai nuklir. Dok: AI Gemini/Eranesia.id

CHINA mulai mempercepat pengembangan baterai nuklir yang mampu bertahan puluhan tahun tanpa perlu diisi ulang. Teknologi ini sebenarnya bukan hal baru. Amerika Serikat meneliti baterai berbasis radiasi nuklir sejak 1950-an.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, peta persaingan berubah. China kini tampil sebagai pemain paling agresif, terutama dalam pengembangan teknologi betavoltaic battery.

Mengutip Popular Mechanics, perusahaan teknologi asal China, Betavolt, memperkenalkan baterai nuklir mini bernama BV100 pada awal 2024. Ukurannya sangat kecil, hanya sebesar koin, tetapi mampu beroperasi hingga 50 tahun tanpa pengisian ulang.

Betavolt tidak hanya mengembangkan prototipe. Perusahaan ini mulai memproduksi baterai tersebut secara massal. Betavolt menargetkan penggunaan luas, mulai dari perangkat medis hingga teknologi dirgantara, bahkan perangkat masa depan.

Teknologi betavoltaik memanfaatkan partikel beta dari peluruhan radioaktif. Partikel ini menghantam semikonduktor khusus dan menghasilkan arus listrik kecil namun stabil.

Teknologi ini tidak menghasilkan daya sebesar baterai konvensional. Namun, teknologi ini menawarkan keunggulan pada umur pakai.

“Baterai betavoltaik berpotensi bertahan hingga 100 tahun, tergantung material yang digunakan,” tulis Popular Mechanicsdalam laporannya yang dikutip CNBC Indonesia, Sabtu (18/4/2026).

Dari sisi keamanan, radiasi beta tetap mudah dikendalikan. Lapisan tipis seperti aluminium mampu menahan radiasi tersebut, sehingga penggunaan teknologi ini tetap aman dalam kondisi tertentu.

Baterai nuklir mampu bekerja dalam kondisi ekstrem. Kemampuan ini membuat teknologi tersebut cocok untuk berbagai kebutuhan. Pengguna dapat memanfaatkannya pada rover luar angkasa, sensor laut dalam, hingga alat pacu jantung.

China terus mengembangkan inovasi baru. Northwest Normal University di Gansu mengumumkan riset baterai nuklir berbasis karbon-14. Peneliti mengklaim baterai ini mampu bertahan hingga satu abad.

Untuk memperkuat posisi, China membangun rantai pasok industri baterai nuklir dari hulu hingga hilir. Negara ini meniru strategi sukses dalam industri panel surya.

Mengejar Ketertinggalan

Di sisi lain, Amerika Serikat berupaya mengejar ketertinggalan. Perusahaan City Labs di Miami mengembangkan baterai betavoltaik berbasis tritium untuk misi luar angkasa dan perangkat medis. Baterai ini mampu bertahan sekitar 20 tahun.

City Labs memiliki sejarah panjang dalam teknologi ini. Pada 1970-an, perusahaan ini menciptakan baterai betavoltaik pertama bernama Betacel. Namun, keterbatasan teknologi dan stigma terhadap energi nuklir menghambat pengembangan inovasi tersebut.

Kini situasi berubah. Sejumlah perusahaan di AS, Inggris, dan Eropa kembali serius mengembangkan teknologi ini. Peluncuran baterai 50 tahun dari China memberi sinyal kuat bagi industri global.

Setelah lebih dari tujuh dekade sejak awal pengembangan, baterai nuklir memasuki fase baru. Dalam fase ini, China memimpin perlombaan teknologi tersebut.

Sumber : CNBC Indonesia | Editor : Muh Taufan