Regional

Opini: Toleransi Solidaritas Dan Persaudaraan Sebagai Aset Dalam Membangun Harmonisasi Sesama Anak Bangsa

×

Opini: Toleransi Solidaritas Dan Persaudaraan Sebagai Aset Dalam Membangun Harmonisasi Sesama Anak Bangsa

Sebarkan artikel ini
Ketua FKUB Sulteng, Profesor Dr KH Zainal Abidin MAg. Dok: Pribadi/Eranesia.id

HARI raya kurban adalah sangat terkait dengan pengalaman rohani seorang tokoh dan pemimpin umat manusia, Nabi Ibrahim AS. Bahkan hari raya kurban dan ibadah haji di tanah suci merupakan bentuknya yang konkret dan yang lebih lengkap. Sehingga dapat dikatakan, bahwa semua itu adalah usaha pelestarian pengalaman Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail.

Ibrahim tampil dalam pentas sejarah sekitar 3731 tahun yang lalu atau sebagian ahli sejarah berpendapat beliau lahir sekitar 2000 tahun sebelum masehi. Ia berasal dari Babilonia, ia adalah seorang anak dari seorang pematung istana yang bernama Azar.

Tampaknya sejak usia bocah Ibrahim menunjukkan cara berfikir yang tajam dan kritis tentu saja oleh hidayah Ilahi. Suatu ketika, ia menyaksikan sesuatu yang tidak masuk akalnya, di mana ayahnya memahat batu, setelah selesai dan batu berubah menjadi patung, kemudian sang ayah menyembahnya.

Ibrahim memberontak dan untuk itu,ia harus di hukum bakar namun diselamatkan oleh Allah swt. akhirnya ia hijrah ke Palestina. Suatu saat Ibrahim di perintah oleh Allah agar melepaskan atau meninggalkan isteri dan anaknya ditengah padang yang tandus dan kering. Itulah yang kemudian menjadi tempat yang didatangi oleh umat Islam dari pelosok dunia untuk menunaikan ibadah haji yaitu Makkah Al-Mukarramah.

Sitti Hajar isteri Nabi Ibrahim dengan penuh ketabahan dan kesabaran taat kepada perintah Allah, rela untuk ditinggal suami, walau terasa amat berat, kalau nanti persediaan bekal akan habis. Hal ini harus menjadi contoh dan teladan yang berharga kepada para istri yang hidup di zaman ini.

Tapi puncak dari segala ujian itu ialah perintah Allah agar Ibrahim menyembelih putra kesayangannya, putra yang begitu lama ditunggu dan dirindukan, darah daging satu-satunya yang diharapkan melanjutkan keturunan tapi justru harus disembelih oleh tangannya sendiri.

Sebagai seorang ayah, tak diragukan lagi betapa besar cinta Ibrahim kepada putra semata wayangnya itu, tapi cintanya kepada Allah melebihi segalanya. Perintah itu wajib dilaksanakan, walau dengan bermandi air mata.

Sejarah Ibrahim telah menjadi pelajaran kepada kita, bahwa hanya orang-orang yang tahan ujian dan cobaan yang mampu menghadapi kehidupan dan bisa menjadi orang berguna, karena tak ada kamusnya, manusia besar dan berguna lahir dari sebuah keluarga yang santai dan tidak pernah mengalami rintangan dan hambatan dalam menghadapi sesuatu. Contoh yang jelas dapat di lihat dari sejarah para Nabi dan pemimpin-pemimpin bangsa yang terkenal.

Alquran melukiskan dalam bentuk dialog antara Ibrahim dengan anaknya Ismail yang masih muda belia. Kala Ismail menginjak usia muda, Ibrahim berkata pada anaknya: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi, aku akan menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu”. Ismail menjawab: “Wahai ayahku kerjakanlah apa-apa yang diperintahkan oleh Allah. Engkau akan dapati aku Insya Allah tergolong orang-orang yang sabar”.

Dengan sikap pasrah kepada Allah, Ibrahim memutuskan dan melaksanakan perintah Allah tersebut. Keputusan itulah yang kemudian membawa pengalaman keruhanian sejak dari Makkah.

Inilah dasar dari ritus-ritus ibadah haji. Olehnya ibadah haji merupakan tindakan menapak tilas Nabi Ibrahim dan Putranya. Itu juga adalah pelestarian pengalaman keruhanian mereka, sebab pengalaman itu, mengandung dan menjadi sumber pelajaran yang mendalam dan luas bagi umat manusia secara keseluruhannya sampai akhir zaman.

Melalui kisah di atas, tergambar jiwa dan semangat pengorbanan Ibrahim dan putranya dalam menegakkan perintah Allah. Saat ini, bentuk pengorbanan yang kita lakukan tentu berbeda dengan yang dilakukan oleh Ibrahim dan anaknya. Dalam arti yang luas, tetapi jiwa dan semangatnya sama.

Makna qurban boleh jadi ditafsirkan, menaruh sesuatu yang dikasihani sebagai persembahan yang sesungguhnya atau sesuatu yang dikorbankan itu harus benar-benar benda berharga, tidak cacat dan merupakan sesuatu yang sengaja dipelihara, disayangi dan mempunyai nilai yang tinggi.

Firman Allah dalam Alquran :

ﻟﻦَ ﻳﻨَﺎَﻝَ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﻟُﺤﻮُﻣُﻬﺎَ ﻭَﻻَ ﺩِﻣَﺂﺅﻫُﺎَ ﻭََٰﻟﻜِﻦ ﻳَﻨَﺎﻟُﻪُ ﭐﻟﺘَّﻘْﻮَٰﻯ ﻣﻨِﻜُﻢْ

’’Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya’’.

Namun perlu diingat sebelum orang berkorban Allah perintahkan untuk memenuhi kewajiban shalat sebagaimana firman Allah:

ﻓَﺼَﻞِّ ﻟِﺮَﺑِّﻚَ ﻭﺍَﻧْﺤَﺮْۗ

“Shalatlah untuk Tuhanmu dan berkorbanlah”

Lalu akankah qurban hari raya Adha diikuti dengan pengorbanan hari-hari berikutnya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan? Jawabnya ada pada setiap pribadi muslim.

Ada yang menarik dari kisah Nabi Ibrahim dan anaknya. Dalam kisah itu tergambar ajaran betapa pentingnya dialog dan keterbukaan. Walupun perintah itu dari Allah, Ibrahim tidak lalu berlaku semena-mena, sekehendak hatinya meski terhadap anaknya sendiri, miliknya sendiri yang dapat diperlakukan semaunya.

Ibarahim justru memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mengajukan saran agar diperoleh kata sepakat, ini adalah contoh teladan yang harus dipraktekan oleh setiap orang tua yang hidup di zaman ini, begitu pula setiap anak harus mencontoh kepatuhan, kerelaan dan ketaatan serta kesetiaan Ismail kepada orang tuanya.

Dialog itu juga merupakan simbol antara atasan dan bawahan, pemerintah dan rakyat, penguasa dan masyarakat sehingga tidak terdapat jurang pemisah atau kesenjangan. Atasan tidak merasa paling hebat dan benar yang pada gilirannya bawahan lebih percaya diri dan dapat lebih kreatif dan maju.

Begitu juga penguasa dan pemerintah tidak akan menjadikan rakyat sebagai obyek dan sasaran yang harus dikuasai dan diintimadasi. Tetapi rakyat diberi kebebasan, dalam mengajukan pendapat dan menyalurkan aspirasi serta mendapatkan hak-haknya, saling bicara dan saling mendengar.

Budaya dialog dan keterbukaan tidak hanya dibidang politik, tetapi meliputi pula dalam kehidupan keagamaan sehingga terjalin kerukunan antar umat beragama dan interen umat beragama. Budaya dialog perlu ditumbuhsuburkan, sehingga tidak melahirkan kesombongan paham, sekte, aliran dan golongan atau merasa paham dan pendapatnya yang paling benar.

Bukankah menurut Islam setiap yang beriman itu bersaudara dan kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling kenal-mengenal bukan untuk saling menyalahkan, saling memaki saling berperang dan saling membunuh.

Melalui dialog diharapkan praktek saling menuding kekurangan dan menonjolkan superioritas harus dikubur dalam-dalam, kendati perbedaan pendapat tidak dapat di bendung, namun pertentangan yang membawa keretakan dapat dihindari bahkan pelbagai perselisihan dan perbedaan tidak harus diselesaikan disini, dan kini di dunia tetapi ada yang akan diselesaikan dihadapan Allah di hari kemudian. Perbedaan pendapat bahkan keyakinan merupakan fenomena alamiah atau sunnatullah sebagaimana firman Allah dalam Alqur’an:

ﻭَﻟَﻮْ ﺷَﺂﺀَ ﺭَﺑُّﻚَ ﻟَﺠَﻌَﻞَ ﭐﻟﻨﺎَّﺱَ ﺃُﻣَّﺔً ﻭَٰﺣِﺪَﺓً ۖ ﻭَﻻَ ﻳَﺰﺍَﻟُﻮﻥَ ﻣﺨُﺘْﻠَﻔِﻴِﻦَ

“Kalau saja Allah menginginkan niscaya ia akan menciptakan satu bangsa yang monolik tetapi mereka senantiasa menunjukkan perbedaan”.

Laksanakanlah dengan baik apa yang anda yakini benar tanpa harus menyalahkan orang yang berbeda dengan anda begitu pula kebalikannya.

Olehnya lewat upaya saling menghargai, dan menghormanti antara anak bangsa, maka usaha itu, lebih memantapkan persatuan toleransi dan solidaritas demi persatuan nasional tidaklah terlalu sulit, bahkan disintegrasi bangsa yang dikhawatirkan dapat dicegah.

Apapun yang melatar belakangi terjadinya sebuah konflik apalagi yang dihubungkan dengan masalah agama, maka jalan terbaiknya adalah lewat dialog. Tulisan Leonard Swidle pakar Teologi Katolik dan hubungan antar agama mengatakan:

‘bagi mereka yang menggunakan paradigma ekslusifis yang cenderung untuk mengisolasi diri dan enggan berdampingan dengan agama lain tidak akan dapat tempat dalam arena kehidupan agama. Lanjut katanya kita dapat mengabaikan pihak lain dengan menutup mata pikiran dan hati terhadap mereka, menatap mereka dengan rasa curiga, prasangka bahkan dengan kebencian.

Pola hubungan semacam ini akan mengantar kita kepada permusuhan yang berakhir dengan konfrontasi dan kematian. Olehnya manusia beranjak dari pola monolog kepada pola dialog, siapa saja yang mengabaikan dialog, ia akan tergusur sendiri’.

Momen Iduladha, adalah momen penting dalam menumbuhkan toleransi antar umat beragama. Betapa tidak, Ibrahim adalah Abul Anbiyaa (Bapak dari para Nabi).

Karenanya beliau diagungkan, paling tidak, oleh tiga agama besar dunia, Islam, Kristen dan Yahudi. Diabadikannya sejarah Ibrahim dalam ritual haji dan kurban, dapat dilihat sebagai sebuah simbol untuk mengingatkan para penganut agama-agama samawi agar menjalin hubungan yang toleran, harmonis dan damai, karena mereka adalah putra-putra Ibrahim.

Nabi Muhammad SAW. Bersabda:

ﻭﺍَﻟﻠَّﻪِ ﻻَ ﻳﺆُﻣْﻦُِ، ﻭﺍَﻟﻠَّﻪِ ﻻَ ﻳﺆُﻣْﻦُِ، ﻭﺍَﻟﻠَّﻪِ ﻻَ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﻗﻴِﻞَ : ﻭَﻣَﻦْ ﻳﺎَ ﺭﺳَﻮُﻝَ ﺍﻟﻠﻪَِّ؟ ﻗﺎَﻝَ: ﺍﻟَّﺬﻱِ ﻻَ ﻳَﺄْﻣَﻦُ ﺟﺎَﺭُﻩُ ﺑﻮَﺍَﻳِﻘَﻪُ

”Demi Allah tidaklah beriman seseorang 3x Sahabat bertanya Siapakah mereka itu Ya Rasulullah?”. Nabi berkata, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya”

Alquran menegaskan:

ﻻَ ﻳﻨَﻬْٰﯩﻜُﻢُ ﺍﻟّٰﻠﻪُ ﻋَﻦِ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻟَﻢْ ﻳُﻘَﺎﺗِﻠُﻮْﻛُﻢْ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻮْﻛُﻢْ ﻣِّﻦْ ﺩِﻳَﺎﺭِﻛُﻢْ ﺍَﻥْ ﺗَﺒَﺮُّﻭْﻫُﻢْ ﻭَﺗُﻘْﺴِﻄﻮُﺍْٓ ﺍِﻟَﻴْﻬِﻢْۗ ﺍِﻥَّ ﺍﻟّٰﻠﻪَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﻘْﺴِﻄِﻴْﻦَ

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari rumah-rumah kamu, berlaku adillah, Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah : 8)

Perbedaan-perbedaan yang ada disekitar kita seperti suku, agama, ras dan antar golongan adalah hal yang wajar dan mesti serta sebagai bagian dari sunnatullah yang tidak bisa dielakkan dan dihindari.

Umar Ibn Khattab telah memberikan teladan yang baik bagaimana islam menghargai perbedaan. Dalam sejarah diceritakan, tatkala Umar selesai menanda-tangani surat perjanjian penyerahan kota Jerussalem kepada kaum muslimin, beliau justru menegskan: ’Ini adalah kota suci tiga agama, karena itu orang Yahudi boleh tingal di sini’ padahal pada saat itu bani israil tidak diizinkan sama sekali untuk tinggal di Jerussalem bahkan diseluruh Palestina. Masa itu dikenal dengan Zaman Diaspora yaitu zaman orang Yahudi mengembara ke seluruh muka bumi tanpa tanah air dan terlunta-lunta.

Ketika penanda-tanganan tersebut  selesai,  Umar  menyampaikan  kepada  Patriak keinginannya untuk sujud syukur atas dibebaskannya Jerussalem. Patriak pun mempersilahkan beliau untuk shalat di gereja karena perjanjian itu dilaksanakan di gereja.

Akan tetapi Umar menolak lalu keluar untuk shalat agak jauh dari gereja. Usai shalat, Umar bertanya kepada Patriak: Tahukah anda mengapa saya tidak shalat di gereja? Kita ini masih dalam suasana perang, kalau rakyat saya tahu bahwa saya baru selesai shalat di gereja anda, mereka mengira gereja ini sudah menjadi masjid, dan anda akan kehilangan gereja, karena itu saya shalat di luar gereja. Lalu Umar berpesan kepada pasukannya: ’Hai tentaraku, bila tempat bersejarah di tempat ini di peringati dengan pendirian masjid, saya berpesan: Masjid itu tidak boleh besar, tidak boleh ada shalat Jumat, tidak boleh ada azan, dan tidak boleh bangunannya lebih tinggi dari gereja itu. Itulah wasiat Umar dan sekarang masjid itu masih ada dan dapat dilihat di depan Gereja Jerussalem.

Nabi bersabda  Agama interaksi harmonis. Semakin baik interaksi seseorang, semakin baik keberagamaannya. Dalam konteks kemasyarakatan, tidak mungkin suatu masyarakat dapat maju dan berkembang tanpa jaminan harmonis antar anggotanya, jalinan yang menyebabkan mereka bekerjasama, semakin banyak manfaat yang mereka raih.

Maka tepatlah apa yang disabdakan oleh Nabi ketika ditanya sahabatnya, siapa orang paling dicintai oleh Allah swt, beliau menjawab ﻟِﻠَّﻨﺎِﺱ َﺃْﻧَﻔُﻌُﻬْﻢ ﺍﻟﻨَّﺎِﺱ َﺧْﻴُﺮ ’orang-orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain’. Dan tentu, demikian juga sebaliknya, orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang tidak bermanfaat serta merusak orang lain.

Ajaran-ajaran tersebut di atas, bukan hanya diajarkan oleh Islam tetapi merupakan ajaran semua agama yang ada di dunia, olehnya itu jika setiap pemeluk agama menjalankan ajaran agamanya dengan baik, benar dan utuh, mereka akan bersifat toleran, menghormati hak-hak orang lain, menolong sesama manusia dan menghargai kebebasan beragama, inilah yang dimaksud oleh pakar agama dengan sebutan ‘mewujudkan tata dunia baru agam-agama’ yaitu agama datang bukan untuk peperangan atau permusuhan tetapi perdamaian dan kemashlahatan serta kesejahteraan umat manusia. Teringat kita kepada Rasulullah SAW. dalam khutbah wada’ (perpisahan) tatkala wukuf di Arafah:

Wahai manusia, tidak ada perbedaan orang Arab dan bukan orang Arab, orang putih dan orang hitam kecuali takwanya, manusia adalah anak cucu Adam dan Adam diciptakan dari tanah.

Dengan demikian, tidak satupun manusia yang boleh dengan sewenang-wenang menindas dan memeras manusia lain, tidak ada satu bangsa pun diberi hak untuk menjajah bangsa lain, apa lagi jika membawa bendera agama tertentu, karena hal itu sangatlah bertentangan dengan nilai-nilai agama manapun. Nabi bersabda:

ﺍﺭﺣْﻤَﻮُﺍ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻷَْﺭْﺽِ ﻳَﺮْﺣَﻤْﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﻓﻲِ ﺍﻟﺴﻤَّﺎَﺀ

Sayangilah yang di bumi, niscaya yang dilangit akan menyayangimu.

Dengan hadis lain Nabi bersabda:

ﻳﺴﺮِّﺍ ﻭﻻ ﺗﻌﺴﺮِّﺍ

Permudahkanlah segala urusan orang jangan dipersulit

Terutama mereka sebagai pelayan masyarakat, pegawai negeri, konglomerat, atau orang yang mempunyai kekuasaan dalam arti luas, sebab orang yang mempermudah urusan orang lain senantiasa urusannya juga nanti akan dipermudah Allah. Sebaliknya jika suka membuat susah orang lain kelak kita juga akan dibebani kesusahan yang lebih berat.

Olehnya itu, sebagai bangsa kita tidak bisa menang dan maju kecuali dengan persatuan, kita dapat menang melawan musuh jika kita tidak bercerai berai. Kita tidak mungkin membangun teknologi yang maju atau mengembangkan ilmu pengetahuan kecuali dengan persatuan.

Tidak perlu menjadi benar dengan menyalahkan orang lain
Tidak perlu menjadi baik dengan menjelekkan orang lain
Tidak perlu menjadi tinggi dengan merendahkan orang lain
Tapi jadilah pribadi yang santun di manapun berada .

Penting menjadi orang baik, tetapi merasa diri paling baik adalah suatu kesombongan .
Penting menjadi orang pintar, tetapi merasa diri paling pintar adalah suatu kebodohan .
Penting menjadi orang benar, tetapi merasa diri paling benar adalah malapetaka .

Biarlah ada perbedaan keyakinan .
Biarlah masing-masing memiliki cara berdoa sendiri-sendiri .
Biarlah Tuhan disebut dengan bermacam-macam nama .
Biarlah Tuhan dilukiskan dengan bermacam-macam bentuk .
Biarlah kemuliaan Tuhan dinyanyikan dalam semua bahasa dan dalam keanekaragaman lagu .
Biarlah semua tumbuh dengan subur karena yang kita cari sesungguhnya adalah rahmat Tuhan .

Bahagiakanlah dirimu dengan membahagian orang lain, karena kebahagiaan itu ibarat Suluh yang nyalanya akan semakin terang ketika membagikan apinya kepada orang lain.
Hidup ini Indah apabilah kita Bahagia, namun akan lebih Indah lagi ketika orang lain Bahagia karena kita.

Akhirnya semoga bangsa dan negara serta seluruh rakyat Indonesia dalam keadaan damai, tenteram dan sejahtera dalam kasih dan lindungan tuhan sehingga terwujud toleransi, solidaritas serta persaudaraan demi persatuan bangsa.

*Isi dalam opini sepenuhnya tanggung jawab penulis