KETEGANGAN geopolitik global akibat konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pangan dunia.
Eskalasi konflik, gangguan jalur logistik, dan ketidakpastian perdagangan internasional berpotensi menekan pasokan serta mendorong kenaikan harga pangan global.
Rusia juga mendorong pembentukan cadangan pangan bersama negara BRICS sebagai langkah antisipasi krisis.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia menunjukkan penguatan signifikan di sektor ketahanan pangan. Perum Bulog mencatat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 4,7 juta ton. Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah dan terus bergerak menuju 5 juta ton.
Capaian ini menjadi bagian dari gambaran besar ketahanan pangan nasional. Pasar domestik dan sektor HoReCa mencatat ketersediaan beras sekitar 12 juta ton. Produksi dari standing crop juga terus menopang pasokan hingga akhir tahun.
Tiga lapisan ketersediaan ini memastikan kebutuhan pangan nasional tetap aman hingga 11 bulan ke depan. Pemerintah membangun fondasi tersebut melalui kebijakan yang terarah sejak awal pemerintahan.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna pada Januari 2025, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya swasembada pangan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan kembali arah kebijakan tersebut.
“Dengan swasembada pangan, kita aman. Kita tidak boleh bergantung pada luar negeri. Dalam krisis global, tidak ada negara yang rela melepas pangannya,” ujarnya dikutip dari Mediaindonesia.com, Kamis (16/4/2026).
Amran menjelaskan bahwa pemerintah mengantisipasi tekanan global sejak awal. Ia menyebut arahan Presiden menjadi dasar penguatan cadangan pangan nasional.
“Sejak awal, Presiden menekankan swasembada dan penguatan cadangan pangan. Langkah ini penting untuk menghadapi ketidakpastian global,” jelasnya.
Ia menegaskan, bahwa posisi cadangan pangan saat ini mencerminkan kesiapan Indonesia menghadapi berbagai skenario krisis.
“Cadangan kita mencapai 4,7 juta ton dan terus menuju 5 juta ton. Dengan posisi ini, kebutuhan pangan cukup hingga 11 bulan ke depan,” tegas Amran.
Kementerian Pertanian menilai dinamika global semakin menegaskan pentingnya kemandirian pangan. Ketergantungan pada rantai pasok global menjadi risiko yang harus segera diatasi.
“Dunia menghadapi ketidakpastian, baik karena konflik maupun kebijakan pembatasan ekspor. Karena itu, kita harus memperkuat produksi dalam negeri dan cadangan pangan,” ungkap Amran.
Kementerian Pertanian juga memandang inisiatif Rusia dalam membangun cadangan pangan bersama negara BRICS sebagai langkah strategis. Kerja sama internasional dapat membantu meredam dampak krisis pangan global.
Dengan cadangan pemerintah yang kuat, ketersediaan beras di pasar, serta dukungan produksi yang berkelanjutan, Indonesia berada dalam posisi yang relatif aman.
Kondisi ini memberi modal kuat bagi Indonesia untuk menghadapi tekanan dan ketidakpastian pangan global.
Sumber : Mediaindonesia.com | Editor : Muh Taufan














