KEPALA Pusat Moderasi Beragama LPPM UINDak Palu, Drs Ismail Pangeran menekankan, pentingnya praktik langsung dalam pendidikan moderasi beragama di lingkungan kampus.
Ia menyebut, pemahaman moderasi beragama tidak cukup hanya berhenti pada materi pembelajaran. Nilai tersebut harus hadir dalam tindakan sehari-hari mahasiswa.
“Moderasi beragama tidak boleh berhenti sebagai slogan. Nilai ini harus dipraktikkan,” ujarnya dalam siaran pers yang Eranesia.id terima, Minggu (12/4/2026).
Menurut Ismail, UINDak memikul tanggung jawab besar sebagai kampus dengan visi moderasi beragama.
Tanggung jawab itu mencakup pembentukan sikap dan cara berpikir yang moderat bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.
Ia menilai, pembelajaran di kelas perlu diperkuat dengan pengalaman langsung di lapangan. Karena itu, ia mendorong model pembelajaran yang lebih aplikatif dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Pendidikan moderasi beragama idealnya 40 persen teori dan 60 persen praktik,” ungkapnya.
Ismail juga mengusulkan kegiatan kunjungan ke rumah ibadah sebagai bagian dari pembelajaran. Mahasiswa dapat berdialog langsung dengan pemeluk agama lain untuk memperluas wawasan tentang keberagaman.
Ia menegaskan, pengalaman tersebut dapat memperkuat pemahaman tentang kemanusiaan dan toleransi. Menurutnya, sikap moderat harus membentuk cara pandang yang seimbang dalam kehidupan sosial.
“Mahasiswa perlu belajar berada di tengah, tidak ekstrem ke kanan atau ke kiri,” ujarnya.
Ismail menyatakan, keyakinannya bahwa UINDak terus memperkuat integrasi nilai moderasi dalam seluruh kegiatan akademik.
Dirinya berharap, kampus mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga rendah hati dan inklusif.
“Kampus ini harus menjadi ruang belajar perdamaian yang memberi dampak luas,” tandas Ismail.
Advertorial | Editor : Muh Taufan














