Regional

Mahandis Yoanata Bedah Teknik Menulis Feature untuk Forjubist di Ampana

×

Mahandis Yoanata Bedah Teknik Menulis Feature untuk Forjubist di Ampana

Sebarkan artikel ini
Managing Editor National Geographic Indonesia, Mahandis Yoanata Thamrin saat menjelaskan materi dalam kegiatan Capacity Building Media Mitra yang diselenggarakan KPwBI Sulteng di Ampana, Tojo Unauna, Senin (3/8/2026). Foto: Rusdia/Eranesia.id

MENULIS berita tidak sekadar menyusun urutan fakta. Di balik karya jurnalistik berbobot, ada keahlian menghadirkan narasi. Narasi ini membawa pembaca seolah berada di lokasi kejadian.

Pesan ini ditekankan oleh Mahandis Yoanata Thamrin, Managing Editor National Geographic Indonesia. Ia menyampaikannya dalam kegiatan Capacity Building Media Mitra yang tergabung dalam Jurnalis Bank Indonesia Sulawesi Tengah (Forjubist).

Acara ini berlangsung atas inisiasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah. Kegiatan bertempat di Ampana, Kabupaten Tojo Unauna, Senin (3/8/2026).

Di hadapan belasan jurnalis, Mahandis mengajak peserta memahami feature. Baginya, feature mengupas fakta secara mendalam melalui pendekatan bertutur (storytelling).

Ia menjelaskan perbedaan struktur narrative journalism (jurnalisme naratif) dan hard newsHard news mengandalkan pola piramida terbalik. Sebaliknya, jurnalisme naratif mengemas fakta lewat teknik penceritaan. Teknik ini menghidupkan suasana, karakter, dan emosi pembaca.

“Feature pada dasarnya adalah kisah yang bertutur atau tulisan kreatif. Pendekatan ini lebih banyak menjawab pertanyaan why dan how. Tujuannya agar penulis mampu menggali peristiwa lebih dalam daripada sekadar menyampaikan berita,” ujar Mahandis.

Menurutnya, kekuatan utama feature terletak pada karakter sentral. Karakter ini bertindak sebagai jembatan emosional pembaca dan penulis. Kehadiran suara, dialog, serta pengalaman tokoh membuat karya terasa hidup.

“Feature memiliki sosok yang tampil sebagai tokoh. Tokoh itu menjadi penghubung pembaca dengan tujuan kita. Penulis memberi ruang bagi suara dan dialognya agar cerita hidup,” jelasnya.

Selain karakter, Mahandis membedah peran vital paragraf pembuka (lead). Kalimat pertama wajib mengikat perhatian pembaca sejak awal. Penulis tidak perlu langsung membeberkan seluruh jawaban di paragraf pertama. Ia cukup memantik rasa ingin tahu pembaca hingga akhir.

Lebih jauh, ia menilai jurnalis sebagai “agen bahasa”. Jurnalis menerjemahkan realitas menjadi kisah yang relevan bagi masyarakat. Meski mengusung pendekatan naratif, penulis tetap wajib menjaga akurasi data dan verifikasi informasi. Penghormatan terhadap martabat narasumber juga menjadi pilar utama.

Panitia kemudian melanjutkan pelatihan dengan sesi analisis karya feature. Sesi ini membagi 17 jurnalis ke dalam empat kelompok. Mereka mengidentifikasi kelayakan topik dan kekuatan alur penceritaan. Peserta juga membedah adegan paling membekas serta bukti kerja jurnalistiknya.

Melalui pelatihan ini, peserta mengasah teknik menulis feature. Mereka menyadari bahwa kualitas cerita lahir dari ketajaman observasi dan kedalaman peliputan. Hasilnya adalah narasi yang informatif, humanis, serta beretika.