Sebuah acara adat di Binangga, Sigi menjadi liputan dan foto terakhir BMZ sebelum akhirnya meninggal dunia. Foto: Taufan Bustan/Eranesia.id
DEBU sisa gempa masih mengepul pekat di antara reruntuhan bangunan Jalan Tanjung Manimbaya, Palu, Selasa (16/6/2026) siang. Di tengah lanskap yang porak-poranda, sebuah lensa kamera membidik dengan begitu tenang. Di belakangnya, berdiri seorang pria yang sangat kami hormati, Basri Marzuki. Kami, para juniornya, akrab menyapanya BMZ.
Baru semenit saya menginjakkan kaki di lokasi yang hancur itu, sebuah suara yang teramat akrab memecah kesunyian.
“Pan, baru sampai juga?,”
“Iya, baru sampai Pak,” jawab saya.
Kami sempat berbincang singkat di antara sisa-sisa dinding yang roboh. Naluri jurnalistik pria kelahiran Maros, 21 Juli 1968 ini langsung berdenyut kencang saat saya menceritakan kondisi pasien yang terpaksa dirawat di luar ruangan Rumah Sakit Umum (RSU) Anutapura Palu akibat gempa.
Setelah menyelesaikan beberapa jepretan terakhir, BMZ berpamitan. Ia ingin segera mengejar momen kemanusiaan di rumah sakit itu, ditemani Banu, anak bungsunya yang setia. Suara pamitnya terdengar begitu jelas, abadi dalam rekaman video yang kebetulan sedang saya ambil saat itu.
Namun, sebuah sesal mengganjal di dada. Siang itu, saya tidak sempat menjabat tangannya. Saya hanya membalas ucapan pamitnya dengan lambaian tangan. Saya tidak pernah tahu, bahwa itu adalah lambaian perpisahan untuk selamanya.
BMZ bersiap meninggalkan lokasi bangunan yang roboh pascagempa di Jalan Tanjung Manimbaya, Palu, Selasa (16/6/2026). Foto: Taufan Bustan/Eranesia.id
Memotret hingga Napas Terakhir
Guncangan gempa Sulawesi Tengah pekan ini memanggil jiwa jurnalisme BMZ yang tak pernah padam. Meski fisiknya tak lagi muda, ia menolak untuk berdiam diri. Sejak hari pertama pascagempa, ia terus bergerak.
Keesokan harinya, didampingi sang istri tercinta, Yani Lapasere, BMZ menembus pusat gempa di Kamarora, Sigi, demi merekam nestapa lewat visual.
Seolah tak kenal lelah, sepulang dari sana ia langsung melanjutkan liputan Hari Galungan di Palu, dan menutup hari di sebuah acara adat di Binangga, Sigi.
“Saya temani dia pagi-pagi ke Kamarora liputan,” kenang Yani, Jumat (19/6/2026).
BMZ berjalan bersama Banu saat tiba di lokasi bangunan yang roboh pascagempa di Jalan Tanjung Manimbaya, Palu, Selasa (16/6/2026). Foto: Taufan Bustan/Eranesia.id
Kamis sore menjadi saksi bisu bagaimana sang pewarta foto senior ini menghargai setiap detik waktunya. Selepas liputan sore, ia sempat pulang ke rumah untuk menunaikan salat Magrib dan Isya.
Namun, panggilan tugas kembali mengetuk hatinya. BMZ kembali memanggul tas kameranya yang berat, melangkah lagi menuju ritual adat di Binangga. Ia ingin mengabadikan bagaimana warga lokal merespons bencana melalui kekuatan kebudayaan.
“Waktu pulang itu salat magrib dulu, baru dia tidur sebentar. Bangun habis adzan, baru lanjut salat. Tidak lama habis salat isya, itu dia pergi lagi sama Banu ke Binangga. Kurang lebih 15 menit itu jedahnya dia pergi, Banu menelepon, bilang kalau papanya pingsan,” ungkap Yani menceritakan awal mula BMZ pingsan.
Memang tubuh manusia sedahsyat apa pun semangatnya, tetap memiliki batas.
Malam menuju larut ketika fisik BMZ mulai kolaps di tengah bidikan lensa. Dalam kondisi kesadaran yang perlahan memudar, sebuah pemandangan mengharukan terjadi, naluri profesionalnya tetap menuntun tangannya untuk merapikan sendiri kamera kesayangannya. Ia memastikan alat kerjanya aman di dalam tas, sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
Banu yang panik segera menelepon ibunya. BMZ pun dievakuasi dalam keadaan darurat menuju RSU Anutapura Palu sekitar pukul 21.30 WITA.
Yani Lapasere istri mendiang BMZ saat berada disamping jenazah BMZ di rumah duka BTN Griya Palupi, Palu, Jumat (19/6/2026). Foto: Taufan Bustan/Eranesia.id
Foto yang Belum Sempat Terkirim
Bahkan saat tubuhnya telah melemah di atas ranjang rumah sakit, pikiran BMZ masih dipenuhi oleh berita. Ia sempat terjaga, meraih gawainya dengan sisa tenaga yang ada, dan bersikeras ingin mengedit foto-foto hasil liputan malam itu untuk dikirim ke redaksi LKBN Antara di Jakarta.
Itulah ikhtiar dan kontribusi terakhirnya sebagai seorang jurnalis, sebelum rasa lelah yang luar biasa memaksanya kembali terpejam.
Ketika tim medis hendak mengambil sampel darahnya, kesadaran BMZ merosot drastis. Dokter bergerak cepat melakukan tindakan pompa jantung untuk menyelamatkan nyawanya.
Namun, Sang Pencipta punya garis takdir yang lain. Tepat pada Jumat dini hari pukul 00.37 WITA, BMZ dinyatakan meninggal dunia dalam usia 57 tahun.
Dunia pers Sulawesi Tengah seketika diselimuti mendung duka yang kelam. Kita baru saja kehilangan salah satu putra terbaik, seorang jurnalis foto tangguh, sekaligus Ahli Pers Dewan Pers dari Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu yang sangat dihormati.
Perjalanan panjang yang ia rintis dari Harian Mercusuar, diasah di Radar Sulteng (kini Radar Palu), hingga puncaknya sebagai pewarta foto di Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA, kini telah mencapai garis finis.
Sepanjang kariernya, kamera BMZ selalu hadir di setiap jengkal peristiwa penting yang membentuk sejarah Sulawesi Tengah.
Maafkan saya, Pak, yang tidak sempat menjabat tanganmu untuk terakhir kalinya.
Namun kini, dedikasi, langkah kaki, dan integritas yang telah engkau contohkan akan menjadi warisan serta kompas terbaik bagi kami, para juniormu.
Selamat jalan, BMZ. Tugasmu telah selesai, ragamu kini beristirahat dengan tenang, namun kamera dan karya-karyamu akan abadi, terus berbicara kepada dunia. Husnul khotimah, Amin.