FeatureHeadline

Pulau Papan: Magnet Dunia di Tengah Derita Kemarau dan Ikon yang Lapuk

×

Pulau Papan: Magnet Dunia di Tengah Derita Kemarau dan Ikon yang Lapuk

Sebarkan artikel ini
Warga melewati jembatan kayu yang rusak sambil membawa ember berisi air bersih di Pulau Papan, Desa Kadoda, Kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Unauna, Sulawesi Tengah, Selasa (4/8/2026). Foto: Taufan Bustan/Eranesia.id

KAYU-KAYU tua itu berderit ritmis di bawah pijakan kaki, seperti simfoni sederhana yang menyambut siapa saja yang melintas. Di bawah jembatan, air laut bergradasi biru kehijauan memantulkan cahaya matahari dengan begitu jernih, hingga bayangan terumbu karang dan kawanan ikan kecil di dasar perairan terlihat tanpa celah.

Selamat datang di Pulau Papan, sebuah kepingan surga tersembunyi yang merajut kehidupan Suku Bajo di atas hamparan Samudra.

Terletak di wilayah Desa Kadoda, Kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Unauna, Sulawesi Tengah, pulau kecil yang dinaungi Taman Nasional Kepulauan Togean ini seolah tak pernah kehilangan daya pikatnya. 

Di sinilah berdiri ikon kebanggaan yang melegenda, jembatan kayu sepanjang satu kilometer yang meliuk anggun di atas perairan tenang, menghubungkan pemukiman terapung warga Suku Bajo dengan Pulau Malenge. 

Bagi para pelancong, melangkahi jembatan ini bukan sekadar jalan-jalan pagi atau sore, melainkan sebuah ritual memasuki dimensi waktu yang lebih lambat dan menenangkan.

Wisatawan Tak Putus 

Sejak gelombang musim liburan mulai berembus di bulan April, desa pesisir ini kian riuh oleh kehadiran wisatawan mancanegara. Deretan turis berkulit putih mendominasi sudut-sudut pulau. 

Musim puncaknya meledak pada rentang Juni hingga Agustus, saat lanskap Togean diselimuti cuaca paling bersahabat.

Kepala Desa Kadoda, Derwan, mengungkapkan bahwa nyaris tak ada wisatawan yang datang hanya untuk kunjungan singkat lalu pulang. Semuanya memilih untuk menginap dan menyatu dengan kehidupan desa.

“Seluruh tamu yang datang biasanya menginap. Untuk menampung mereka, di Pulau Papan saat ini sudah tersedia lima homestay,” kata Derwan kepada Jurnalis Eranesia.id di Desa Kadoda awal Agustus 2026 lalu.

Wisatawan nusantara berkunjung di Pulau Papan Desa Kadoda, Kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Unauna, Sulawesi Tengah, Selasa (4/8/2026). Foto: Taufan Bustan/Eranesia.id

Homestay berarsitektur kayu yang sederhana itu menawarkan pengalaman autentik. Terlebih menyantap hasil tangkapan laut segar, mendengarkan desir angin malam di atas laut, hingga terbangun oleh suara hempasan ombak tipis di tiang-tiang rumah.

“Sejak desa kami menjadi desa wisata, kunjungan wisatawan khususnya wisatawan mancanegara itu tidak pernah putus,” ungkap Derwan.

Saat ini, tercatat 100 kepala keluarga dengan total 600 jiwa yang bermukim di Pulau Papan. Mereka terdiri dari Suku Bajo, Bugis, Jawa, hingga Gorontalo.

“Mayoritas warga kami pekerjaannya nelayan dan petani. Mayoritas memang nelayan. Ada juga beberapa pengusaha homestay,” tutur Derwan.

Sekelumit Persoalan

Namun, di balik keindahan visualnya yang memikat mata, Pulau Papan menyimpan sekelumit persoalan yang tak kunjung terselesaikan. Derwan menjelaskan, ada dua persoalan besar di desanya yang membuat banyak warga menjerit.

Pertama adalah krisis air bersih. Di tengah musim kemarau berkepanjangan, warga desa terpaksa berhadapan dengan kekeringan.

“Air kurang, ini sudah berlangsung tujuh bulan,” akunya prihatin.

Selama ini, mayoritas warga Desa Kadoda menggantungkan kebutuhan air dari Pulau Malangkat yang berjarak dua kilometer dari Pulau Papan. 

Namun akibat kekeringan, beberapa mata air di sana mengering. Walhasil, warga harus rela berbagi agar semua bisa tetap menyambung hidup.

“Air ini keperluan sehari-hari warga. Kalau kurang seperti saat ini, cukup pusing warga kami,” tegas Derwan.

Keresahan ini sebenarnya sudah disampaikan ke pemerintah terkait, namun belum membuahkan solusi konkret. Oleh karena itu, Derwan sangat berharap Pemerintah Kabupaten Tojo Unauna mengulurkan bantuan.

“Sekarang kan sudah canggih teknologi, air laut bisa diubah menjadi air tawar. Kami berharap ada bantuan mesin seperti itu,” katanya penuh harap.

Jembatan kayu banyak yang sudah jebol di Pulau Papan Desa Kadoda, Kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Unauna, Sulawesi Tengah, Selasa (4/8/2026). Foto: Taufan Bustan/Eranesia.id

Selain mesin pengolah air laut, Derwan juga mendesak adanya bantuan mesin pompa air demi menunjang sektor pariwisata setempat.

“Kebutuhan air bukan hanya untuk warga, tapi di desa kami ini ada resort dan homestay. Itu jelas perlu banyak air. Semoga kami bisa dibantu karena ini persoalan yang terus berulang selama musim kemarau,” tegasnya lagi.

Tidak berhenti di masalah air, warga Pulau Papan juga sudah lama mengeluhkan kondisi jembatan papan yang menghubungkan tiga dusun di Desa Kadoda tersebut. Ratusan penduduk menggantungkan mobilitas harian mereka pada konstruksi kayu ini.

Mirisnya, bentangan jembatan ikonik sepanjang satu kilometer itu kini banyak yang lapuk bahkan rusak. Beberapa bagian tak lagi memiliki papan pelapis, parahnya ada yang patah dan raib sama sekali. Kondisi ini bukan hanya membahayakan keselamatan warga setempat, namun juga mengancam nyawa para pelancong.

“Jembatan kayu ini panjangnya satu kilometer dan menjadi ikon utama, tapi rusak sudah lama dan belum ada perbaikan. Sebelumnya kami juga sudah mengusulkan ke pemerintah, tapi belum ada tanggapan,” tutup Derwan.

Ia mewakili seluruh warga berharap persoalan mendasar di desanya bisa segera teratasi agar wisatawan yang datang berlibur dapat merasa lebih aman dan nyaman.

Warga memanfaatkan air bersih seadanya hanya untuk memasak, mandi dan mencuci pakaian di Pulau Papan Desa Kadoda, Kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Unauna, Sulawesi Tengah, Selasa (4/8/2026). Foto: Taufan Bustan/Eranesia.id

Mencari Escapism

Di sudut jembatan, Sarif Idrus, seorang pemandu wisata independen asal Gorontalo, menyapu pandangannya ke arah jembatan kayu yang membentang. Hari itu, ia tengah mendampingi rombongan kecil yang terdiri dari empat wisatawan asal Prancis, Spanyol, dan Jerman.

“Memang kalau sudah masuk Juni, Juli, sampai Agustus, Togean ini selalu ramai,” tutur Sarif.

Bagi turis-turis asal Eropa, terutama dari Prancis, daya tarik Pulau Papan tak sekadar terletak pada keindahan visual bawah lautnya yang murni atau panorama megah dari puncak batu karang. 

Yang mereka buru adalah escapism sebuah jeda dari hiruk-pikuk modernitas. Mereka datang bukan untuk singgah sejenak, melainkan menetap selama dua hingga tiga hari, bahkan memanjangkan waktu tinggal hingga seminggu penuh.

Salah satu wisatawan asal Jerman, Nina, mengaku sangat terkesan berkunjung ke Pulau Papan. Menurutnya, tinggal di tengah komunitas lokal memberi pelajaran hidup yang berharga. Dari melihat cara mereka memasak, mencuci, hingga menyelami kehidupan sehari-hari Suku Bajo.

“Saya pikir Pulau Papan adalah kombinasi yang sangat bagus antara alam, pemandangan yang indah, serta budaya lokal yang kuat,” ungkap Nina.

Turis asal Eropa bersantai di hamok salah satu home stay di Pulau Papan Desa Kadoda, Kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Unauna, Sulawesi Tengah, Selasa (4/8/2026). Foto: Taufan Bustan/Eranesia.id

Di Pulau Papan, kemewahan memang tidak diukur dari fasilitas berbintang lima, melainkan dari kemurnian alam dan kehangatan senyum warga Bajo. 

Dan selama jembatan satu kilometer itu tetap berdiri kokoh menantang zaman, jejak langkah para pengelana dari pelbagai belahan dunia akan terus mengalir ke sudut indah Tojo Unauna ini.