BATUK yang tak kunjung sembuh sering dianggap sepele. Padahal, kondisi ini bisa menjadi gejala awal kanker paru. OncoCare Cancer Centre menekankan pentingnya mengenali tanda bahaya batuk dan memanfaatkan terapi modern yang mampu meningkatkan harapan hidup pasien.
Di Indonesia, kanker paru menempati peringkat ketiga terbanyak dan menjadi penyebab utama kematian akibat kanker pada pria.
Data Globocan 2022 menunjukkan, sekitar 70 persen kasus baru terdiagnosis saat stadium lanjut (Roche Asia Pacific Lung Cancer Case Study 2023).
Kebiasaan merokok menjadi faktor risiko terbesar. Sebanyak 65,5 persen pria dewasa Indonesia masih menggunakan tembakau.
Kanker Paru Bisa Tanpa Gejala
Spesialis Kanker OncoCare Singapura, dr Akhil Chopra, menjelaskan bahwa kanker paru dapat tumbuh lama tanpa gejala. Lokasi tumor sangat menentukan.
Jika timbuh di bagian tengah paru, gejalanya berupa batuk berkepanjangan. Dan jika berada di bagian luar, kanker sering tak terdeteksi hingga menyebar.
“Kanker paru biasanya tidak bergejala. Karena itu banyak pasien baru datang saat sudah stadium lanjut,” kata dr Chopra dikutip dari Liputan6.com, Selasa (2/9/2025).
Batuk yang Perlu Diwaspadai
Menurut dr Chopra, batuk akibat infeksi biasanya membaik dalam 3–4 minggu. Namun, bila berlangsung lebih dari sebulan, segera lakukan pemeriksaan, minimal dengan rontgen dada.
Tanda batuk yang patut diwaspadai antara lain. Batuk berdarah, batuk disertai suara serak karena kanker menyerang pita suara, dan batuk dengan gejala lain seperti sesak napas, nyeri, berat badan turun, atau mudah lelah.
“Batuk akibat kanker paru sering disertai gejala tambahan seperti lemas, sesak, dan penurunan berat badan,” tambahnya.
Tidak Hanya Perokok
Meski rokok menjadi penyebab utama, kanker paru juga menyerang non-perokok. Faktor genetik, riwayat keluarga, dan polusi udara berperan besar.
“Di Asia, kami sering menemukan pasien non-perokok. Di Indonesia dan India, polusi kini menjadi penyebab nomor dua setelah rokok,” jelas dr Chopra.
OncoCare kerap menerima pasien asal Indonesia. Salah satunya pria berusia 50-an yang terdeteksi kanker paru stadium awal lewat pemeriksaan pencitraan di Tanah Air.
Tes menemukan mutasi genetik yang bisa diobati dengan terapi obat tertarget. Pasien memulai pengobatan dalam dua minggu, tanpa kemoterapi, dan segera kembali beraktivitas normal.
“Kanker paru yang terdeteksi sejak dini memberikan peluang kesembuhan lebih baik. Terapi tertarget kini bisa mengobati mutasi genetik tertentu, memberikan harapan baru bagi pasien,” ujar dr Chopra.
Selain kemoterapi, kini tersedia terapi generasi baru yang lebih efektif, termasuk imunoterapi. “Setengah kasus kanker paru di Asia memiliki mutasi gen yang bisa diobati dengan obat-obatan khusus. Kami sudah punya obat generasi kedua dan ketiga. Imunoterapi juga semakin maju, bahkan sudah ada di Indonesia,” katanya.
Teknik operasi robotik dan proton radiation juga membuat pengobatan lebih aman dan minim efek samping. Dulu, pasien stadium 4 hanya bertahan kurang dari setahun. Kini, dengan terapi modern, pasien dengan mutasi tertentu bisa bertahan 4–5 tahun, bahkan lebih dari 10 tahun.
Pesan Penting
Banyak pasien Indonesia mencari perawatan ke luar negeri, termasuk ke OncoCare Singapura dan Malaysia. Mereka mendapat layanan tim multidisiplin, rencana terapi personal, akses ke terapi modern, hingga staf berbahasa Indonesia.
Pesan dr Chopra jelas jangan anggap remeh batuk yang tak kunjung sembuh.
“Bila batuk berlangsung lama, terutama pada perokok atau mereka yang terpapar polusi, pemeriksaan harus segera dilakukan,” tegasnya.
Deteksi dini sangat menentukan. Semakin cepat kanker paru ditemukan, semakin besar peluang pasien menjalani pengobatan efektif dan mempertahankan kualitas hidup.
Sumber: Liputan6.com | Editor: Muhammad













