KURMA menjadi salah satu makanan yang selalu hadir setiap Ramadan. Buah ini membantu mengembalikan energi setelah tubuh lemas seharian berpuasa. Kandungan gula alaminya membuat kurma cepat meningkatkan stamina.
Di pasaran, kurma dijual dengan beragam harga, dari yang terjangkau hingga premium. Namun, Anda tidak boleh memilihnya secara sembarangan. Kurma yang terlihat menarik belum tentu masih layak konsumsi.
Kurma merupakan buah yang dikeringkan. Proses pengeringan membuat kadar airnya rendah sehingga lebih tahan lama dan tidak mudah berjamur. Meski begitu, penyimpanan yang kurang tepat tetap bisa menurunkan kualitasnya.
Mengutip Tasting Table, kurma dapat bertahan hingga enam bulan di dalam kulkas jika Anda menyimpannya dalam wadah tertutup. Jika Anda menyimpannya di freezer, masa simpannya bisa mencapai tiga tahun.
Agar tidak salah pilih, perhatikan beberapa ciri kurma yang sudah tidak layak konsumsi berikut ini.
1. Bau tidak sedap
Kurma segar umumnya memiliki aroma netral atau manis ringan. Jika tercium bau busuk atau menyerupai alkohol, sebaiknya jangan dikonsumsi.
2. Perubahan warna
Perhatikan tampilan fisiknya. Kurma yang terlalu gelap, tampak kusam, atau memiliki bercak pucat patut diwaspadai. Perubahan warna sering menandakan penurunan kualitas, terutama jika disertai jamur.
3. Terlalu lengket atau berlendir
Kurma memang memiliki tekstur lengket karena kandungan gulanya. Namun, jika permukaannya sangat lengket, basah, atau berlendir, kondisi ini bisa menandakan kerusakan.
4. Rasa berubah
Kurma yang masih baik memiliki rasa manis alami. Jika muncul rasa pahit atau asam yang tidak biasa, sebaiknya hentikan konsumsi.
5. Muncul jamur
Bintik-bintik putih atau lapisan berbulu pada permukaan kurma menandakan pertumbuhan jamur. Kondisi ini biasanya terjadi akibat penyimpanan yang tidak higienis atau terlalu lembap.
Itulah beberapa ciri kurma yang tidak layak konsumsi. Selalu periksa aroma, warna, tekstur, dan rasa sebelum membeli atau mengonsumsinya agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga.
Sumber : CNN Indonesia | Editor : Muh Taufan













