MASYARAKAT sering menganggap rasa mudah lelah, sesak napas saat beraktivitas maupun berbaring, hingga pembengkakan pada kaki sebagai kelelahan biasa atau proses penuaan.
Padahal, jika keluhan ini muncul berulang atau semakin berat, kondisi tersebut menandakan gangguan fungsi jantung, termasuk gagal jantung (heart failure).
Gagal jantung terjadi ketika organ jantung gagal memompa atau menerima darah secara optimal, sehingga cairan menumpuk dan kebutuhan tubuh tidak terpenuhi.
Spesialis Jantung Mayapada Hospital Surabaya, dr Anindita Primiari Qodrina, menjelaskan bahwa pasien tidak selalu merasakan gejala gagal jantung sebagai keluhan berat pada tahap awal.
“Pada tahap awal, pasien biasanya merasa lebih cepat lelah atau kemampuan fisiknya menurun. Selanjutnya, jika kondisi memburuk, pasien akan merasakan sesak napas hingga pembengkakan kaki. Oleh karena itu, pasien harus segera memeriksakan diri jika keluhan tersebut muncul berulang,” ujar dr Anindita dalam keterangan resmi, Rabu (2/9/2026).
Penyebab dan Faktor Risiko
Berbagai penyakit yang merusak struktur dan fungsi organ dapat memicu gagal jantung. Beberapa di antaranya meliputi:
- Penyakit jantung koroner dan hipertensi yang tidak terkontrol.
- Gangguan katup dan irama jantung (aritmia).
- Kelainan otot jantung (kardiomiopati).
Selain itu, faktor pemicu lain seperti diabetes, obesitas, kebiasaan merokok, penyakit ginjal, kurang beraktivitas fisik, faktor usia, serta genetik turut meningkatkan risiko gagal jantung.
Pemeriksaan dan Diagnosis Komprehensif
Spesialis Jantung Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Ika K Dhanudibroto, menekankan pentingnya pemeriksaan mendalam untuk memastikan diagnosis dan tingkat keparahan penyakit.
“Kami memeriksa kondisi pasien secara menyeluruh untuk menilai fungsi jantung dan menentukan terapi yang sesuai. Sebab, setiap pasien membutuhkan penanganan yang berbeda secara individual,” kata dr Ika.
Dokter dapat melakukan berbagai evaluasi klinis untuk menegakkan diagnosis, antara lain:
- Pemeriksaan fisik dan rekam jantung (EKG).
- USG jantung (ekokardiografi) untuk menilai fungsi pompa serta kondisi katup.
- Tes laboratorium darah (pemeriksaan tes BNP/NT-proBNP).
- Pemindaian lanjutan melalui CT Scan Jantung, Cardiac MRI, hingga pemeriksaan di Cath Lab.













