KAWASAN industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah memanfaatkan limbah nikel berupa slag sebagai bahan material konstruksi bernilai ekonomi tinggi.
Setiap hari, perusahaan itu memproduksi 40.000 unit material konstruksi, terdiri 16.000 unit batako dan 24.000 unit paving block.
Koordinator Pengelolaan Limbah PT IMIP, Burhanudin, menjelaskan IMIP memanfaatkan slag nikel melalui riset dan pengembangan.
Batako dan paving dari slag nikel memiliki kepadatan tinggi, lebih berat, dan kuat. Riset menunjukkan slag nikel meningkatkan daya tahan material.
“Batako mengandung 70% slag nikel, 20% fly ash, dan 10% semen,” jelas Burhanudin dikutip dari Website PT IMIP, Kamis (15/5/2025).
Sejak 2021, pemerintah mengeluarkan sembilan jenis limbah dari kategori B3 dan memasukkannya dalam daftar limbah non-B3 terdaftar, termasuk slag nikel, slag besi/baja, mill scale, debu EAF, PS ball, fly ash, bottom ash, spent bleaching earth, dan foundry sand.
Ketentuan tertuang dalam PP Nomor 22 Tahun 2021 dan Permen LHK Nomor 19 Tahun 2021 tentang pengelolaan limbah non-B3.
PT IMIP juga mendorong masyarakat, khususnya di Morowali, Sulawesi Tengah, untuk memanfaatkan material slag nikel.
Salah satunya untuk pembangunan infrastruktur di desa-desa Kecamatan Bahodopi.
“Kami terbuka berkolaborasi mendukung pembangunan daerah dengan memanfaatkan slag nikel. Pengajuan bisa melalui instansi pemerintah, seperti Kementerian PUPR, atau instansi teknis daerah dan desa,” tambah Direktur CSR/Environmental PT IMIP, Dermawati S. *TAU/MUH













