HeadlineRegional

Stunting Masih Tinggi, Wagub Sulteng Dorong Aksi Tepat Sasaran

×

Stunting Masih Tinggi, Wagub Sulteng Dorong Aksi Tepat Sasaran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi seorang balita diukur tinggi badannya oleh kader Posyandu untuk memastikan terbebas dari stunting di Posyandu Sedap Malam, Kelurahan Pengawu, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat 3 Mei 2024. Foto : Taufan Bustan / Eranesia.id

WAKIL Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A Lamadjido menegaskan, pentingnya sinergi dan akurasi data untuk mempercepat penurunan stunting di provinsi itu.

Ia menyoroti, bahwa stunting masih menjadi tantangan serius dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

“Anak bertubuh pendek belum tentu stunting. Kita harus pastikan dulu berat badan, kemampuan motorik, kognitif, hingga daya tahan tubuh sebelum menyimpulkan,” ujar Reny saat memimpin rapat koordinasi lintas sektor di ruang kerjanya, Selasa (20/5/2025).

Reny, yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Sulteng, mengingatkan bahwa kesalahan pengukuran data, sekecil apa pun, bisa berujung pada intervensi yang tidak tepat.

Karena itu, dirinya meminta seluruh pihak melakukan pengukuran status gizi secara rutin dan konsisten menggunakan alat antropometri standar, seperti pengukur tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas, dan lingkar kepala.

“Petugas posyandu harus melakukan pengukuran setiap bulan,” tegasnya.

Reny merujuk hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2024 yang mencatat prevalensi stunting di Sulteng sebesar 26,1 %. Ia menilai kondisi tersebut memerlukan rencana aksi yang sederhana, fokus, dan langsung menyasar target yang tepat.

Oleh karena itu, Reny mendorong pemanfaatan aplikasi e-PPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) sebagai solusi untuk menghimpun data gizi anak secara akurat dan terintegrasi.

“Petugas bisa menggunakan data ini sebagai dasar penentuan intervensi spesifik berbasis by name by address, agar program lebih tepat sasaran,” jelasnya.

Reny juga meminta puskesmas mengoptimalkan penggunaan alat USG untuk mendeteksi risiko stunting sejak masa kehamilan. Ia menginstruksikan pelatihan intensif bagi tenaga kesehatan agar mereka mampu mengoperasikan USG secara optimal.

Selain itu, Reny menyoroti tingginya angka pernikahan dini yang turut menyumbang kasus stunting. Ia mendorong semua pihak bekerja sama memutus mata rantai pernikahan anak demi menyelamatkan generasi masa depan.

“Kuncinya adalah kekompakan, komitmen, dan akurasi data,” pungkasnya.

Rapat koordinasi ini diikuti oleh TP-PKK Provinsi, Dinas P2KB, Dinas Kesehatan, Bappeda, dan BKKBN Sulawesi Tengah. *TAU/MUH