MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan bahwa krisis moneter 1998 harus menjadi cermin agar Indonesia tidak jatuh pada jurang yang sama di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini.
Menurutnya, kehancuran ekonomi kala itu berawal dari kebijakan moneter yang kontradiktif. Bank Indonesia menaikkan suku bunga hingga lebih dari 60 persen untuk menjaga nilai rupiah.
Namun di saat bersamaan, uang primer (base money) justru melonjak 100 persen akibat pencetakan uang besar-besaran.
“Ini kesalahan fatal. Bunga yang tinggi membunuh sektor riil, sementara likuiditas berlimpah dipakai spekulan untuk menyerang rupiah. Tanpa sadar, kita membiayai kehancuran ekonomi sendiri,” tegas Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Senayan, Jakarta disadur dari Mediaindonesia.com, Kamis (11/9/2025).
Purbaya menilai, kebijakan moneter yang tidak sinkron itu menjadi pemicu utama keruntuhan ekonomi 1998. “Kalau kebijakan kacau, maka lahirlah ‘setan-setan’ ekonomi yang menghancurkan,” ujarnya.
Purbaya kemudian menyinggung krisis global 2008 sebagai contoh pembelajaran. Pemerintah saat itu cepat mengubah strategi. Rupiah memang melemah, tetapi bukan dihantam kebijakan yang saling bertolak belakang.
“Saya sempat bisik-bisik ke think tank era Presiden Susilo Bambang Yudoyono soal cara menghadapi krisis itu,” kenangnya.
Dua langkah kunci kemudian diambil: ekspansi fiskal pada 2009 serta penurunan suku bunga pada Desember 2008. Kebijakan ini membuat likuiditas tetap terjaga, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak terseret lebih dalam.
“Kalau ingin ekonomi tumbuh, syaratnya jelas, jaga likuiditas dan kendalikan nilai tukar. Itu kuncinya,” tandas Purbaya.
Sumber : Mediaindonesia.com | Editor : Muh Taufan













