UNIVERSITAS Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes-PDT) membahas strategi pengentasan kemiskinan.
Diskusi ini berlangsung dalam Seminar Nasional bertema “Pengentasan Kemiskinan dengan Metode Nabi Muhammad SAW” di kampus UIN Datokarama, Kamis (2/10/2025). Seminar tersebut menghadirkan Direktur Promosi dan Pemasaran Produk Unggulan Desa dan Daerah Tertinggal Kemendes-PDT, Yusra.
Dalam paparannya, Yusra menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat desa sebagai kunci utama untuk mengurangi kemiskinan.
Ia menyebut setiap desa memiliki potensi lokal yang bisa berkembang menjadi produk unggulan. Potensi itu harus dikelola secara kolektif, bukan hanya mengandalkan bantuan modal.
“Ketika masyarakat sadar bahwa mereka subjek pembangunan, roda ekonomi akan bergerak. BUMDes bisa mengembangkan produk pertanian, kerajinan, hingga pariwisata, sehingga kemiskinan perlahan hilang,” kata Yusra dalam siaran pers yang Eranesia.id terima, Jumat (3/10/2025).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan Indonesia turun menjadi 8,47 persen atau 23,85 juta jiwa pada Maret 2025. Angka ini lebih rendah dibanding 8,57 persen pada September 2024. Namun, penduduk miskin di perdesaan masih mendominasi dengan 54,77 persen.
Yusra menegaskan, perlunya pemberdayaan desa secara holistik. Ia menilai langkah ini sejalan dengan Asta Cita Prabowo–Gibran, khususnya poin keenam, yaitu membangun dari desa demi pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Target tersebut juga tercantum dalam RPJMN 2025–2029 menuju Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga UIN Datokarama, Dr Hamka, mewakili Rektor Profesor Lukman S Thahir. Ia menegaskan kampus ikut bertanggung jawab dalam upaya pengentasan kemiskinan.
Menurutnya, perguruan tinggi harus menjadi mesin solusi inovatif.
“Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, UIN Datokarama mendorong lahirnya model pengentasan kemiskinan yang terukur dan berbasis kearifan lokal. Kami ingin inovasi hasil riset langsung masyarakat desa gunakan,” tegasnya.
Penulis : Amat | Editor : Muh Taufan













