BANYAK orang mengira hidup tak akan sama lagi setelah terkena stroke. Padahal, menurut dr RR Dinna Yulistya Ningrum, dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dari RSPON Profesor Mahar Mardjono Jakarta, pasien stroke tetap memiliki peluang besar untuk pulih dan hidup normal jika penanganannya cepat dan tepat.
“Pemulihan stroke pada setiap orang berbeda-beda. Hal itu tergantung pada kecepatan pasien mendapatkan pertolongan setelah serangan,” ujar dr Dinna, dikutip dari Kompas.com, Senin (3/11/2025).
Ia menegaskan, prinsip utama menangani stroke adalah time is brain. Semakin cepat pasien mendapat pertolongan medis, semakin banyak sel otak yang bisa terselamatkan.
“Begitu muncul gejala seperti wajah mencong, bicara pelo, atau anggota tubuh melemah, jangan tunggu lama. Segera bawa ke rumah sakit,” tegasnya.
Keterlambatan tindakan sering memperburuk kondisi pasien. Jika dokter menangani stroke dalam 3 hingga 4,5 jam pertama, mereka bisa meminimalkan kerusakan otak dan meningkatkan peluang pemulihan secara signifikan.
Rehabilitasi Dini Kunci Kemandirian Pasien
Setelah melewati fase akut, pasien perlu segera mengikuti program rehabilitasi. Dokter biasanya memulai terapi ini sejak pasien masih dirawat di rumah sakit.
“Rehabilitasi bukan hanya latihan fisik, tetapi juga mencakup terapi wicara, terapi okupasi, dan konseling psikologis. Semua bertujuan agar pasien kembali mandiri,” jelasnya.
Menurut dr Dinna, otak manusia memiliki kemampuan luar biasa yang disebut neuroplastisitas, yakni kemampuan membentuk jalur saraf baru untuk menggantikan yang rusak.
Dengan latihan berulang dan stimulasi yang tepat, otak bisa belajar ulang agar fungsi tubuh yang hilang dapat pulih sebagian atau sepenuhnya.
Selain terapi medis, dukungan emosional dari keluarga sangat membantu proses pemulihan. Pasien yang mendapat semangat dari orang terdekat cenderung lebih tekun berlatih.
“Kadang pasien kehilangan motivasi karena merasa tidak berdaya. Di sinilah peran keluarga penting untuk memberi dorongan dan memastikan pasien tetap berjuang,” kata dr Dinna.
Ia menegaskan, proses pemulihan membutuhkan waktu panjang. Pasien harus menjalani terapi secara konsisten agar hasilnya maksimal.
Pencegahan Lebih Baik daripada Pengobatan
Meski peluang pulih cukup besar, dr Dinna mengingatkan pentingnya pencegahan. Menjaga tekanan darah, mengontrol gula darah, rutin berolahraga, dan berhenti merokok menjadi langkah utama untuk mencegah stroke berulang.
“Pasien yang pernah terkena stroke memiliki risiko tinggi untuk kambuh. Karena itu, pola hidup sehat dan kontrol rutin ke dokter wajib dilakukan,” ujarnya.
Dengan penanganan cepat, program rehabilitasi yang tepat, dan dukungan keluarga, pasien stroke bisa kembali hidup produktif dan bermakna.
“Kita tidak boleh menyerah. Ikuti semua edukasi dokter, tetap semangat, karena tujuan akhirnya adalah pasien bisa kembali beraktivitas dan berperan dalam keluarga,” pesan dr Dinna.
Sumber : Kompas.com | Editor : Muh Taufan













