FeatureHeadlineRegional

Charity for Sumatra: Dari Panggung Kecil, Lahir Solidaritas Besar

×

Charity for Sumatra: Dari Panggung Kecil, Lahir Solidaritas Besar

Sebarkan artikel ini
Panitia menerima donasi Rp10.000.000 dari Wakapolda Sulteng saat Charity for Sumatra digelar IJTI dan Bateman Production di sebuah kafe Kota Palu, Rabu (10/12/2025) malam. Foto: HO/Eranesia.id

SUARA musik mengalun dari panggung kecil di sudut sebuah kafe. Cahaya lampu memantul di wajah para pengunjung yang duduk santai menunggu giliran mengisi kotak donasi.

Di balik malam yang tampak biasa itu, para relawan mengumpulkan harapan untuk ribuan warga Sumatra Utara, Sumatera Barat, dan Aceh yang sedang menata hidup kembali setelah bencana alam.

Charity for Sumatra berlangsung di sebuah kafe di Kota Palu, Rabu (10/12/2025) malam. Acara ini lahir dari gerakan spontan yang digagas Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Tengah bersama Bateman Production.

Tanpa perlu seruan besar, dukungan mengalir. Polisi, jurnalis, komunitas kreatif, musisi, hingga warga yang sekadar lewat, semuanya ingin ikut menunjukkan kepedulian.

Di tengah acara, para donatur naik satu per satu ke panggung. Kapolda dan Wakapolda Sulteng menyumbang masing-masing Rp10.000.000, disusul kelompok jurnalis Tameme Rp5.000.000, dan Andi Attas Abdullah Rp1.000.000.

Kotak donasi yang bergeser dari tangan ke tangan juga menambah Rp1.097.000.

Menjelang penutupan malam, total donasi mencapai Rp30.097.000. Angka ini mungkin tampak kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka yang menitipkan empati, jumlah itu membawa makna besar.

Charity for Sumatra di sebuah kafe Kota Palu, Rabu (10/12/2025) malam. Foto: HO/Eranesia.id

Steve Oy dari Bateman Production memandang derasnya dukungan sebagai sesuatu yang wajar bagi masyarakat Palu.

“Kita pernah mengalami situasi yang sama pada 2018,” ujarnya. “Empati ini lahir dari pengalaman yang tak pernah benar-benar hilang,” sambungnya.

Ketua Panitia, Rizki Budiman sepanjang malam menerima ucapan terima kasih dan pelukan dari para penyumbang.

“Ini bukan soal jumlah,” katanya. “Ini soal keinginan bersama untuk menguatkan saudara-saudara kita di Sumatra,” tambahnya.

Charity for Sumatra tidak lagi sekadar penggalangan dana. Acara ini berubah menjadi ruang pertemuan antara jurnalis yang biasa meliput bencana, musisi yang menyebarkan harmoni, dan masyarakat yang datang membawa ketulusan.

Di malam Kamis yang semakin larut, hanya satu pesan yang menggema, Palu belum lupa bagaimana rasanya kehilangan, dan kota ini memilih membalas kesedihan itu dengan solidaritas.

“Semua donasi akan kami kirimkan langsung ke wilayah terdampak,” tutup Rizki.

Editor : Taufan Bustan