Ekonomi

IWIP Targetkan Produksi Baterai EV 20 Gigawatt per Tahun

×

IWIP Targetkan Produksi Baterai EV 20 Gigawatt per Tahun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kendaraan listrik menggunakan BEV. Dok: AI Gemini/Eranesia.id

PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) membangun pabrik baterai kendaraan listrik atau battery electric vehicle(BEV) di kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Project Supervisor PT IWIP, Dodi Pidora, menyatakan perusahaan memulai pembangunan pabrik baterai EV sejak Oktober 2024.

Menurut Dodi, progres konstruksi berjalan sesuai rencana. Tim proyek telah menyelesaikan pekerjaan sipil bangunan. Saat ini, pekerja fokus memasang mesin produksi.

“Estimasi tetap sesuai rencana awal. Pada kuartal pertama tahun ini, tim akan menyelesaikan instalasi mesin,” ujar Dodi, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).

IWIP merancang fasilitas tersebut dengan kapasitas produksi total 20 gigawatt per tahun. Pada fase pertama, perusahaan menargetkan produksi delapan gigawatt (GW).

Untuk pengembangan baterai BEV dan Energy Storage System (ESS), IWIP menggandeng PT Rept Battero sebagai pengelola produksi.

“Total rencana produksi mencapai sekitar 20 gigawatt per tahun,” kata Dodi.

Data Kementerian Perindustrian mencatat dua proyek besar sedang berjalan di kawasan industri IWIP. Nilai investasinya mencapai sekitar 2 miliar dolar AS atau Rp33,83 triliun.

Kedua proyek tersebut mencakup pabrik baterai BEV milik PT Rept Battero dan industri electrolytic aluminum PT Kemajuan Alumina Industri.

Sementara itu, Dodi menyebut investor telah menanamkan modal hingga 15 miliar dolar AS di kawasan IWIP. Angka tersebut setara sekitar Rp253,7 triliun.

Para tenant bersama pengelola kawasan memanfaatkan investasi itu untuk membangun smelter dan infrastruktur pendukung industri.

Dalam tiga bulan terakhir, kawasan Weda Bay mencatat beroperasinya industri baru berupa pabrik Electrolytic Aluminum Ingot.

Fasilitas ini mengolah bahan baku alumina yang berasal dari luar kawasan. Perusahaan menjalankan proses produksi melalui metode elektrolisis.

“Tim telah menyelesaikan instalasi dan proses industrinya. Kementerian Perindustrian juga telah memverifikasi izin usaha,” jelas Dodi.

Dengan kapasitas produksi sekitar 250.000 ton aluminium ingot per tahun, pabrik tersebut menjadi industri terbaru di kawasan Weda Bay.

Di tingkat nasional, pemerintah menyiapkan 18 proyek prioritas hilirisasi melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI) Danantara.

Rangkaian proyek tersebut mencakup sektor nikel, bauksit, tembaga, batu bara, dan pertanian.

Total nilai investasi proyek mencapai 38,63 miliar dolar AS atau sekitar Rp618,13 triliun. Program ini berpotensi menyerap hingga 276.636 tenaga kerja.

Danantara Lakukan Pengkajian

Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi menyerahkan dokumen pra-studi kelayakan (pra-feasibility study/pra-FS) kepada Danantara pada Juli 2025.

Kini, Danantara menangani kajian lanjutan seluruh proyek tersebut.

CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan proyek hilirisasi menyasar sektor mineral dan batu bara, pertanian, kelautan, transisi energi, serta ketahanan energi.

“Delapan belas proyek ini akan menciptakan lebih dari 270.000 lapangan kerja. Setiap investasi harus menghasilkan pekerjaan yang berkualitas,” ujar Rosan, Selasa (22/7/2025).

Untuk rinciannya, sektor mineral dan batu bara diperkirakan menyerap 104.974 tenaga kerja. Sektor pertanian menyerap sekitar 23.950 tenaga kerja.

Selain itu, sektor kelautan dan perikanan berpotensi menyerap 67.100 tenaga kerja. Transisi energi menyerap 29.652 tenaga kerja.

Adapun sektor ketahanan energi diperkirakan menyerap sekitar 50.960 tenaga kerja. Presiden Prabowo Subianto meminta percepatan realisasi seluruh proyek hilirisasi.

Sumber : Kompas.com | Editor : Muh Taufan