Regional

Merawat Keberagaman, UIN Datokarama Perkuat Peran Tokoh Agama

×

Merawat Keberagaman, UIN Datokarama Perkuat Peran Tokoh Agama

Sebarkan artikel ini
Rektor UIN Datokarama Palu, Profesor Lukman S Thahir. Foto: Humas UIN Datokarama/Eranesia.id

UNIVERSITAS Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu memperkuat kompetensi tokoh agama di Sulawesi Tengah untuk memperkokoh kualitas kerukunan antarumat beragama di wilayah tersebut.

UIN Datokarama mewujudkan upaya ini melalui Pelatihan Literasi Keagamaan Lintas Budaya. Pelatihan tersebut mengusung tema “Kolaborasi Lintas Agama dan Budaya demi Mewujudkan Masyarakat yang Inklusif dan Kohesif”.

Para tokoh agama dari pelbagai agama mengikuti kegiatan ini. UIN Datokarama menyelenggarakan pelatihan tersebut di Auditorium kampus setempat, Senin (19/1/2026).

Rektor UIN Datokarama, Profesor Lukman S Thahir, menegaskan bahwa UIN Datokarama memikul tanggung jawab moral sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri terbesar di Sulawesi Tengah. Menurutnya, kampus harus berperan sebagai jembatan di tengah keberagaman.

“Kerukunan bukan hanya soal ketiadaan konflik. Kerukunan menuntut kemampuan untuk saling memahami identitas budaya dan keyakinan tanpa rasa terancam. Tokoh agama berada di garda terdepan dalam menyampaikan pesan damai ini,” ujarnya saat membuka kegiatan.

Lukman menjelaskan, peningkatan kualitas kerukunan antarumat beragama harus berawal dari kemampuan setiap individu untuk mengenal dan memahami diri sendiri. Ia menilai kesadaran diri menjadi pintu masuk untuk memahami orang lain.

“Sering kali konflik tidak muncul karena perbedaan besar, tetapi karena hal-hal kecil. Misalnya, merasa tidak dihargai, tidak didengar, atau merasa paling benar,” ungkapnya.

Lukman menyebutkan, kelelahan emosional dan tekanan pikiran sering memicu persoalan tersebut. Karena itu, pemahaman diri juga mencakup kemampuan mengelola emosi.

“Orang yang kuat bukan mereka yang selalu menang dalam perdebatan, melainkan mereka yang mampu menang atas dirinya sendiri,” katanya.

Lukman juga mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa orang terkuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan yang mampu mengendalikan diri saat marah.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa memahami orang lain tidak cukup hanya dengan mendengar kata-katanya. Setiap orang perlu memahami latar belakang, pengalaman hidup, cara berpikir, serta nilai yang diperjuangkan.

“Toleransi tidak berarti harus setuju dalam segala hal. Toleransi berarti tetap menghormati sesama manusia dan mampu bekerja sama, meskipun berbeda pandangan,” jelasnya.

Lukman menutup sambutannya dengan pesan reflektif. Ia mengajak setiap individu memahami diri sendiri agar tidak mudah menghakimi, memahami orang lain agar tidak mudah membenci, serta membangun kolaborasi agar perbedaan menjadi rahmat, bukan musibah.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menyampaikan apresiasi kepada UIN Datokarama. Ia menilai kerja sama ini berperan penting dalam meningkatkan kualitas kerukunan antaragama dan lintas budaya.

UIN Datokarama menyelenggarakan Pelatihan Literasi Keagamaan Lintas Budaya ini bersama Institut Leimena. Melalui kegiatan tersebut, kedua lembaga mendukung program Kementerian Agama Republik Indonesia dalam meningkatkan kerukunan umat beragama dan cinta kemanusiaan.

Rilis | Editor : Muh Taufan