INDONESIA Open bakal tampil berbeda mulai tahun depan. Badminton World Federation (BWF) menerapkan durasi turnamen 11 hari untuk kategori Super 1000, sebagai bagian dari komitmen mendukung arah pengembangan bulutangkis dunia.
Kabid Luar Negeri PBSI, Bambang Roedyanto mengatakan, PBSI menyadari durasi 11 hari menambah biaya operasional.
Namun hal itu dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga posisi Indonesia Open sebagai turnamen premier dunia.
“Kami juga ingin menyelenggarakan acara sesuai standar global BWF,” terang Bambang dalam siaran pers yang Eranesia.id terima, Rabu (11/2/2026).
Selain dari sisi penyelenggaraan, format baru ini memberi nilai tambah bagi atlet. Bambang menjelaskan, jumlah peserta nomor tunggal bertambah dari 32 menjadi 48 pemain.
“Atlet juga akan menjalani lebih banyak pertandingan karena format setengah kompetisi hingga babak 16 besar. Ini membuka peluang lebih luas bagi mereka tampil di level tertinggi,” ungkapnya.
PBSI juga memperhatikan kesehatan dan performa atlet. Dengan durasi turnamen yang lebih panjang dan hanya menggunakan dua lapangan pertandingan, atlet memiliki waktu istirahat yang cukup.
“Kami berharap ini menjaga kualitas permainan sepanjang turnamen,” harap Bambang.
Tak hanya kompetisi, PBSI menekankan pendekatan sportainment. Turnamen yang lebih panjang memungkinkan hadirnya hiburan dan aktivasi menarik di luar lapangan.
Hal ini memberi pengalaman menonton yang lebih seru, baik bagi penonton di arena maupun penggemar melalui siaran dan platform digital.
“Penguatan unsur sportainment, bersamaan dengan kualitas kompetisi yang semakin tinggi, akan memperkuat daya tarik Indonesia Open sebagai ajang olahraga dan hiburan kelas dunia. Ini juga sejalan dengan upaya BWF memperluas jangkauan dan popularitas bulutangkis secara global,” tandas Bambang.
Penulis : Muh Tauhid | Editor : Muh Taufan













