Feature

Di Balik Secangkir Kopi, Dialog Toleransi Mengalir

×

Di Balik Secangkir Kopi, Dialog Toleransi Mengalir

Sebarkan artikel ini
Tidak ada sekat mimbar yang tinggi, tidak pula jarak formal yang kaku. Semua tampak membaur dalam satu ruang percakapan tentang toleransi, spiritualitas, dan masa depan Sulawesi Tengah (Sulteng). Dok: FKUB Sulteng/Eranesia.id

AROMA kopi memenuhi sudut Loop Circle Cafe, Jumat (15/5/2026). Pagi itu, suara cangkir beradu dan percakapan ringan menciptakan suasana hangat. Sejumlah tokoh lintas agama duduk melingkar dan berbagi ruang yang sama.

Tidak ada sekat mimbar tinggi. Tidak ada jarak formal yang kaku. Semua orang melebur dalam percakapan tentang toleransi, spiritualitas, dan masa depan Sulawesi Tengah (Sulteng).

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) mengemas dialog itu lewat konsep “Ngobrol Pintar (Ngopi) Kerukunan”. Format sederhana ini menghadirkan gagasan besar: menjaga harmoni di tengah masyarakat yang beragam.

Gubernur Sulteng Anwar Hafid, Kepala Kanwil Kemenag Sulteng Junaidin, para pemuka agama, dan mitra strategis seperti Wahana Visi Indonesia hadir dalam forum tersebut. Mereka tidak hanya berbicara, tetapi juga saling mendengar dan memahami.

Tema kegiatan hari itu berbunyi “Moderasi Beragama dan Berani Berkah untuk Sulteng Nambaso”. Srikandi FKUB Sulteng, Endang Susan Karyosumito, memandu jalannya diskusi dengan suasana cair.

Loop Circle Cafe milik tokoh muda peduli kerukunan, Mardiman Sane, menjadi ruang pertemuan yang unik. Tempat itu menghadirkan suasana santai di tengah diskusi serius tentang keberagaman.

Rumah Besar

Ketua FKUB Sulteng, Profesor Zainal Abidin, membuka percakapan dengan visi besar. Ia ingin FKUB menjadi “rumah besar” bagi seluruh umat beragama di Sulteng.

Zainal menegaskan, toleransi tidak cukup berhenti sebagai slogan. Ia mendorong toleransi tumbuh sebagai kesadaran bersama yang hidup di tengah masyarakat.

Dalam forum itu, Zainal menyoroti paradoks kehidupan modern. Agama hadir dalam banyak ruang kehidupan, tetapi pengaruhnya dalam membentuk perilaku sosial sering melemah.

Ia mengutip filsuf Hans Kung yang menyebut agama sebagai pedang bermata dua. Agama dapat melahirkan perdamaian, tetapi juga memicu konflik jika dipahami secara sempit.

“Kita ingin agama menjadi sumber perdamaian. Tidak mungkin kita mewujudkan Sulteng Nambaso jika agama menjadi sumber pertikaian,” tegasnya.

Percakapan semakin hidup ketika Zainal mengaitkan moderasi beragama dengan program “Berani Berkah” milik Gubernur Anwar Hafid. Ia menilai Sulteng Mengaji dan Sulteng Berjamaah memperkuat pembentukan karakter masyarakat.

Ia menjelaskan, makna mengaji sebagai upaya memahami nilai kemanusiaan dalam kitab suci, bukan sekadar membaca teks. Ia juga memaknai berjamaah sebagai kebersamaan dalam tujuan meski berbeda cara.

“Cara kita bisa berbeda-beda, tetapi tujuan kita harus sama, yaitu saling mendukung dan menghindari perpecahan,” ujarnya.

Tokoh yang kerap dijuluki “Gus Dur dari Sulawesi Tengah” itu menjelaskan moderasi beragama dengan bahasa sederhana. Ia menegaskan moderasi tidak mencampuradukkan keyakinan, tetapi mengajarkan sikap saling menghormati.

“Praktik moderasi itu sederhana. Saya tetap Islam, bapak-ibu tetap dengan agama masing-masing, tetapi kita bisa duduk berdampingan dengan damai seperti ini,” kata Zainal sambil tersenyum.

Kekuatan Spiritual

Gubernur Sulteng Anwar Hafid memberi penekanan pada peran nilai spiritual dalam pembangunan daerah. Ia menilai kemajuan tidak hanya bergantung pada kekuatan ekonomi dan kebijakan.

Ia mengenang pengalamannya saat memimpin Morowali. Ia melihat kesejahteraan tidak bertahan lama ketika nilai spiritual ditinggalkan.

“Semua sejarah pemerintahan hancur bukan karena kekuatannya lemah, tetapi karena nilai spiritual ditinggalkan,” kata Anwar.

Anwar juga menceritakan pengalamannya berbicara di hadapan perwakilan 28 negara di Universitas Gadjah Mada. Dalam forum itu, para ahli menekankan pentingnya fondasi spiritual dalam pembangunan bangsa.

Ia mendorong seluruh umat beragama menghidupkan rumah ibadah masing-masing. Masjid, gereja, pura, dan tempat ibadah lain perlu berfungsi sebagai pusat pembinaan moral masyarakat.

Ia menilai masyarakat yang terbiasa menerima pesan kebaikan akan lebih kuat menghadapi pengaruh negatif.

“Saya kira toleransi di Indonesia ini sudah final. Tinggal bagaimana kita menguatkannya melalui nilai spiritual,” tuturnya.

Di sisi lain ruangan, pemilik Loop Circle Cafe, Mardiman Sane, menikmati jalannya diskusi. Ia mendukung forum ini karena konsep “ngopi” membuat percakapan tentang kerukunan terasa lebih dekat dengan keseharian.

Percakapan berlangsung tanpa sekat. Para tokoh agama bertukar pandangan sambil menyeruput kopi. Sesekali tawa ringan muncul di tengah pembahasan serius tentang masa depan toleransi.

Beragam unsur lintas agama hadir dalam kegiatan itu. Mulai dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia, Gereja Kristen Sulteng, Gereja Protestan Indonesia Donggala, Bala Keselamatan, Persatuan Hindu Dharma Indonesia, hingga berbagai organisasi lintas iman lainnya.

Menjelang siang, forum ditutup dengan sesi tanya jawab dan penyampaian gagasan. Namun yang tertinggal bukan hanya materi diskusi, melainkan suasana kebersamaan yang tumbuh sepanjang pertemuan.

Di meja-meja kopi itu, para tokoh lintas agama menunjukkan satu pesan sederhana perbedaan tidak harus menciptakan jarak. Dari ruang-ruang kecil yang hangat seperti inilah, harapan tentang Sulawesi Tengah yang damai dan “Nambaso” terus dirawat bersama.

Sumber : FKUB Sulteng | Editor : Muh Taufan