SEBUAH desa mengapung di atas air terlihat dari kejauhan, rumah-rumah kayu yang ada seolah menari di atas ombak.
Inilah Torosiaje, sebuah kampung unik di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo yang menjadi rumah bagi Suku Bajo, sang penguasa lautan.
Perjalanan menuju Torosiaje adalah sebuah petualangan tersendiri. Setelah enam jam melintasi perbukitan hijau yang dipenuhi ladang jagung dari Kota Gorontalo, pengunjung disambut oleh dermaga beton yang kokoh.
Di sini, perahu-perahu kayu bermesin telah menanti, siap mengantarkan pengunjung mengarungi 700 meter lautan menuju perkampungan yang seolah muncul dari dasar lautan.
Seorang warga lokal, Nurdin menyambut dengan senyum lebar, “Selamat datang di Torosiaje, kampungnya orang-orang Bajo,” kalimat sederhana ini mengawali petualangan pengunjung di dunia yang berbeda, di mana 80% penduduknya adalah Suku Bajo yang telah memilih untuk mengakhiri kehidupan nomaden mereka dan membangun surga kecil di atas laut.
Torosiaje bukanlah desa biasa. Di sini, 1.500 jiwa dari 440 kepala keluarga menjalani kehidupan sehari-hari mereka di atas air.
Rumah-rumah kayu berwarna-warni berdiri gagah di atas tiang-tiang, dihubungkan oleh jembatan kayu sepanjang 2,2 kilo meter yang membentuk huruf “U”.

Meski berada di tengah laut, Torosiaje tidak ketinggalan zaman. Listrik menerangi setiap sudut desa, jaringan telekomunikasi dan internet mengalir lancar, bahkan ada lapangan bulu tangkis yang menjadi saksi semangat olahraga warga.
Sekolah dan masjid berdiri tegak, membuktikan bahwa pendidikan dan spiritualitas tetap menjadi prioritas di tengah kehidupan laut yang keras.
Mozaik Budaya di Tengah Lautan
Keunikan Torosiaje tidak hanya terletak pada lokasinya yang eksotis. Di balik identitas kuat Suku Bajo, tersimpan sebuah mozaik budaya yang menakjubkan.
Ketua Adat Suku Bajo Torosiaje, Jekson Sompah dengan bangga menceritakan, ada 12 etnis yang hidup damai di Torosiaje. Di antaranya, Bajo, Bugis, Makassar, Mandar, Gorontalo, China, Kaili, Jawa, Ambon, Minahasa, Arab, dan Sanger.
“Kedamaian antaretnis betul-betul terjaga,” akunya saat ditemui di Torosiaje, Minggu, 9 April 2023.
Torosiaje bukan sekadar desa nelayan biasa. Ia adalah magnet yang menarik wisatawan dari pelbagai penjuru.
Mikson Yapanto dan Jootje Repi, dua warga lokal, telah mengubah rumah mereka menjadi penginapan yang nyaman. Dengan harga terjangkau, wisatawan dapat merasakan pengalaman autentik tinggal di rumah panggung di atas laut.
Bagi pencinta petualangan, Torosiaje menawarkan spot diving yang memukau, dengan kekayaan bawah laut yang mempesona.
Pulau Kecil dengan pasir putihnya yang menawan dan Pulau Besar dengan terumbu karang dan ikan hias yang memesona menanti untuk dijelajahi.
Bahkan ada Pulau Pukat, rumah bagi ikan hiu yang bersahabat, yang telah mendapat pengakuan dari Kaka, vokalis Slank yang juga duta hiu Indonesia.
Tradisi yang Tak Lekang oleh Waktu
Di tengah modernisasi, Torosiaje tetap mempertahankan tradisi unik mereka. Perlombaan tarik tambang di atas perahu, panjat pohon pinang di laut, lomba renang, dan lomba perahu menjadi tontonan menarik bagi wisatawan.
“Kami tidak hanya menjual rumah panggung dan panorama. Kami juga memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan orang Bajo,” ungkap Jekson dengan bangga.

Torosiaje kini berdiri di ambang perubahan. Dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang, termasuk dari mancanegara seperti Tiongkok, desa ini bersiap untuk melangkah ke era baru pariwisata.
Jekson dan warga lainnya berharap, pemerintah dapat membantu dengan fasilitas pendukung modern seperti banana boat dan jetski, tanpa menghilangkan pesona tradisional Torosiaje.
Saat matahari terbenam, cahaya keemasan memantul di permukaan laut yang tenang.
Torosiaje, dengan segala keunikan dan pesonanya, tetap berdiri gagah, menjadi bukti bahwa harmoni antara manusia dan alam masih ada.
Di sini, di atas riak-riak ombak, sebuah komunitas telah membangun surga kecil mereka, mengundang siapa saja untuk datang dan merasakan keajaiban hidup di atas laut. MUH













