PASANGAN calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah nomor urut 2, Anwar Hafid – Reny A Lamadjido tidak mempermasalahkan lokasi debat kandidat di Jakarta.
Anwar mengatakan, esensi debat terletak pada penyampaian visi dan misi melalui televisi, bukan lokasi penyelenggaraannya.
“Yang penting bagaimana visi dan misi paslon disiarkan melalui televisi yang bisa ditonton banyak orang. Kalau debatnya di ruang terbuka dengan ribuan masyarakat, tentu sebaiknya dilakukan di Palu,” terangnya dalam siaran pers yang diterima Eranesia.id, Selasa (15/10/2024).
Anwar juga mengatakan, debat di studio televisi tidak menjadi masalah besar, karena hanya melibatkan paslon dan panelis, bukan komunikasi langsung dengan masyarakat.
Menanggapi biaya ke Jakarta, Anwar mengakui, hal itu menjadi beban tim kampanye. Namun, ia menyebutkan, dari sisi biaya produksi, lebih murah menggelar debat di Jakarta karena peralatan televisi sudah tersedia.
“Menurut saya, lebih murah jika debat dilakukan di Jakarta. Yang penting adalah siaran visi dan misi melalui televisi, yang bisa ditonton dari mana saja,” imbuhnya.
Di sisi lain, pasangan calon nomor urut 1, Ahmad Ali, memprotes rencana debat di Jakarta.
Ia menegaskan, debat seharusnya diselenggarakan di Sulteng agar masyarakat dapat berpartisipasi langsung.
“Saya protes. Debat itu bukan untuk menyenangkan stasiun TV. KPUD harus menyesuaikan dengan kepentingan masyarakat, bukan televisi,” tegas Ahmad Ali dalam video, Senin (14/10/2024).
Ahmad Ali menambahkan, debat tersebut ditujukan untuk masyarakat Sulteng, bukan publik nasional, sehingga lebih baik diadakan di wilayah setempat.
Protes Ahmad Ali ini didukung Ketua Bawaslu Sulteng, Nasrun, yang menyarankan debat kandidat diselenggarakan di provinsi masing-masing.
Ketua LSM ADI, Riwin Najamuddin, juga menolak debat di Jakarta, menyatakan debat seharusnya lebih relevan jika dilakukan di Sulteng.
Debat Pilgub Sulteng 2024 yang akan digelar di beberapa stasiun televisi nasional pada 16 Oktober 2024 tetap menjadi sorotan. ADV/KEI













