OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik. Hal ini disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan pada 26 Februari 2025 lalu.
Pertumbuhan ekonomi global masih stagnan dengan inflasi di negara maju yang mulai menurun.
Di Amerika Serikat, inflasi tercatat sebesar 3% yoy pada Januari 2025 dengan core CPI naik ke 3,3% yoy, sementara pasar tenaga kerja tetap kuat.
“The Fed diperkirakan akan memangkas Fed Fund Rate (FFR) sebanyak 1-2 kali tahun ini,” tulis OJK dalam laporannya yang diterima Eranesia.id, Rabu (5/3/2025).
Dari sisi geopolitik, konflik Ukraina-Rusia belum menemukan titik terang setelah pertemuan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih tidak mencapai kesepakatan.
Selain itu, rencana AS menerapkan tarif baru terhadap mitra dagang menambah ketidakpastian global.
Di Tiongkok, pertumbuhan ekonomi cenderung tertahan dengan inflasi rendah sebesar 0,5% yoy dan indeks harga produsen (PPI) yang masih dalam kontraksi.
Bank Sentral Tiongkok tetap mempertahankan suku bunga acuan dan memperketat regulasi ekspor rare earth yang dapat berdampak pada industri teknologi global.
Di dalam negeri, inflasi terkendali dengan angka 0,76% yoy pada Januari 2025.
Namun, ada tren penurunan penjualan kendaraan, semen, serta perlambatan pertumbuhan harga dan volume penjualan rumah. Di sisi lain, PMI Manufaktur naik ke 51,9 dari 51,2, dan surplus neraca perdagangan meningkat menjadi USD 3,45 miliar.
Perkembangan Pasar Keuangan
Pasar saham domestik mengalami pelemahan dengan IHSG turun 11,80% mtd ke level 6.270,60 pada 28 Februari 2025.
Kapitalisasi pasar juga turun 11,68% mtd menjadi Rp10.879,86 triliun. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp18,19 triliun mtd.
Di pasar obligasi, indeks ICBI menguat 1,14% mtd dengan yield SBN turun 13,61 bps.
Investor asing mencatat net buy Rp8,86 triliun mtd. Di industri pengelolaan investasi, Asset Under Management (AUM) turun 0,78% mtd menjadi Rp822,65 triliun.
Penghimpunan dana di pasar modal tetap positif dengan nilai Penawaran Umum mencapai Rp20,74 triliun.
Sementara itu, Bursa Karbon mencatat total volume 1.578.443 tCO2e dengan nilai Rp77,25 miliar.
Kinerja Perbankan
Intermediasi perbankan tumbuh positif dengan kredit naik 10,27% yoy menjadi Rp7.782 triliun pada Januari 2025.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 5,51% yoy menjadi Rp8.879,2 triliun. Likuiditas industri tetap memadai dengan AL/NCD sebesar 114,86%.
Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross 2,18% dan Loan at Risk (LaR) turun menjadi 9,72%.
Profitabilitas perbankan juga stabil dengan ROA sebesar 2,34%, sementara permodalan (CAR) tetap kuat di level 27,05%.
OJK juga terus mendukung pemberantasan judi online dengan meminta bank memblokir sekitar 8.618 rekening terkait aktivitas ilegal tersebut.
Secara keseluruhan, sektor jasa keuangan Indonesia tetap stabil dan resilien di tengah ketidakpastian global. *TAU/MUH













