MINYAK jelantah kini tak lagi jadi limbah. Indonesia mulai menggunakannya sebagai bahan bakar pesawat komersial lewat pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Program ini menjadi bagian dari transisi energi sektor aviasi dan mendapat dukungan langsung dari Airbus.
Pertamina Patra Niaga mengembangkan SAF berbasis Used Cooking Oil (UCO). VP Aviation Fuel Business Pertamina Patra Niaga, Yosep Iswadi, mengatakan pihaknya menindaklanjuti kerja sama dengan Airbus yang disepakati dalam MoU pada Bali International Airshow 2024.
“Kami sudah menjalani proses sertifikasi ISCC CORSIA agar bisnis dan operasional kami sesuai standar internasional. Ini langkah penting membangun ekosistem SAF berbasis UCO di Indonesia,” kata Yosep dikutip dari Detikcom, Minggu (15/6/2025).
Pertamina Patra Niaga akan mulai menyalurkan SAF ke maskapai penerbangan komersial. Mereka memproduksi bahan bakar ini di kilang milik Pertamina dengan bahan baku minyak jelantah untuk menekan emisi karbon sektor udara.
Untuk menjamin mutu dan keselamatan, Pertamina juga menjalani JIG Inspection, standar global dalam distribusi bahan bakar aviasi.
Chief Representative Airbus Indonesia, Dani Adriananta, mengapresiasi langkah Pertamina.
“Inisiatif ini menjadi fondasi penting untuk mendorong dekarbonisasi aviasi secara berkelanjutan, di Indonesia maupun global,” ujarnya.
Pemerintah memasukkan SAF ke dalam Peta Jalan SAF Nasional, dan menargetkan pemanfaatan bahan bakar berkelanjutan untuk penerbangan domestik mulai 2025 hingga 2030.
Pertamina berperan dalam tahap awal komersialisasi, dari kesiapan kilang hingga pasokan bahan baku lokal. MUH













