SERTIFIKASI Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) menjadi topik utama dalam Celebes Forum 2025 yang berlangsung di Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Sertifikasi ini dinilai berperan penting dalam memastikan pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan, legal, dan ramah lingkungan.
Industri kelapa sawit masih menjadi sektor strategis bagi perekonomian nasional. Indonesia bahkan memproduksi sekitar 58 persen minyak sawit dunia (USDA, 2023), menegaskan posisinya sebagai produsen terbesar secara global.
Dengan peran sebesar itu, penerapan sertifikasi ISPO menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan industri sawit.
Sertifikasi ini tidak hanya menjamin kepatuhan hukum dan legalitas usaha, tetapi juga mendorong praktik ramah lingkungan sekaligus memperkuat reputasi sawit Indonesia di pasar dunia.
Data Kementerian Pertanian mencatat hingga Juli 2025 sudah ada 1.211 sertifikat ISPO dengan total luas lahan 7,21 juta hektar.
Dari jumlah itu, 1.108 sertifikat masih aktif, mencakup lahan seluas 608 ribu hektar.
Salah satu narasumber Celebes Forum, Arif, menyampaikan bahwa penerapan sertifikasi ISPO di wilayah Sulawesi terus menunjukkan tren positif.
“Hingga saat ini, ada 22 sertifikasi ISPO dengan total luas 107.649 hektar. Ini bukti pelaku usaha di Sulawesi semakin berkomitmen menjalankan praktik sawit berkelanjutan,” ujar Arif dalam Celebes Forum 2025 di Hotel Best Western Plus Coco, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (22/10/2025).
Ketua GAPKI Cabang Sulawesi, Dony Yoga Perdana, juga menegaskan pentingnya sertifikasi ISPO sebagai panduan agar industri sawit tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan.
“Sertifikasi ISPO memastikan pengelolaan sawit tetap ramah terhadap lingkungan, pekerja, anak, dan perempuan,” ujarnya.
Sertifikasi ini diharapkan menjadi fondasi untuk memperkuat daya saing ekspor minyak sawit Indonesia dan menepis stigma negatif di pasar internasional terhadap industri sawit nasional.
Penulis : Rusdia | Editor : Muh Taufan













