OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mengungkap penyebab penutupan 1.399 unit mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Berdasarkan Laporan Surveillance Perbankan Indonesia (LSPI), jumlah mesin ATM, CDM, dan CRM hingga kuartal III 2025 tercatat sebanyak 89.774 unit.
Angka tersebut turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 91.173 unit.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa penutupan mesin ATM merupakan keputusan bisnis masing-masing bank.
Selain itu, transformasi teknologi yang semakin masif turut mendorong pengurangan jumlah ATM.
“Langkah ini sejalan dengan adopsi layanan digital perbankan yang semakin luas,” ujar Dian dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (28/1/2026).
Ia menilai, tren penutupan ATM masih berpotensi berlanjut ke depan. Pasalnya, nasabah kini semakin mudah mengakses layanan perbankan melalui aplikasi dan platform digital kapan saja dan di mana saja.
Selain itu, meningkatnya penggunaan pembayaran non-tunai membuat kebutuhan transaksi melalui ATM semakin berkurang. Kondisi ini mendorong bank untuk meningkatkan efisiensi operasional.
“Perbankan menempatkan efisiensi sebagai fokus utama. Penguatan layanan digital mampu menekan biaya infrastruktur fisik dan mengoptimalkan proses layanan,” jelas Dian.
Menurutnya, efisiensi tersebut pada akhirnya akan memperkuat kinerja keuangan dan mendukung profitabilitas perbankan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi juga mendorong perluasan transaksi non-tunai di masyarakat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan signifikan pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
“Sistem pembayaran non-tunai membuat transaksi ekonomi lebih efisien dan diharapkan mampu mendorong peningkatan aktivitas perekonomian,” pungkas Dian.
Sumber : CNN Indonesia | Editor : Muh Taufan













