Ekonomi

Gubernur: Industri Nikel Parigi Moutong Dirancang Ramah Lingkungan

×

Gubernur: Industri Nikel Parigi Moutong Dirancang Ramah Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Gubernur Sulteng, Anwar Hafid. Dok: Biro Adpim Pemprov Sulteng/Eranesia.id

GUBERNUR Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menyatakan pemerintah menetapkan industri nikel di Kabupaten Parigi Moutong sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Proyek itu berada di Neo Energi Parimo Industrial Estate (NEPIE), Desa Towera, Kecamatan Siniu.

“Parigi Moutong sudah menjadi PSN jauh sebelum saya menjabat gubernur. Saya mendukung proyek ini karena yang dibangun merupakan industri hijau atau green industry,” terang Anwar dalam siaran pers yang Eranesia,id terima, Kamis (5/2/2026).

Perusahaan mengolah ore nikel setengah jadi dan mengirimnya ke pabrik smelter di Parigi Moutong.

Proyek ini memiliki dua kawasan investasi. Satu di Morowali untuk mengolah ore nikel dari tanah menjadi setengah jadi. Satu lagi di Parigi Moutong untuk pengolahan hilir.

“Di Parigi Moutong, perusahaan membangun fasilitas hilir lengkap. Fasilitas ini mendukung pengembangan industri masa depan,” tegas mantan Bupati Morowali dan anggota DPR RI dua periode itu.

Anwar menekankan, proyek ini berbeda dengan industri batubara di Morowali yang menimbulkan polusi.

“Parigi Moutong tidak akan seperti Morowali. Pabrik di Siniu tidak menghasilkan asap karena menggunakan listrik dari PLTA Banggaiba, Kabupaten Sigi, yang menyalurkan energi langsung ke area pabrik,” jelasnya.

Perusahaan membangun akses jalan ke Pantoloan, Kota Palu. “Akses jalan ke Palu menjadi tiga: Toboli, Siniu ke Pantoloan, dan Sausu tembus Sigi. Jalan dari Siniu ke Pantoloan hanya sekitar 20 kilometer,” terang Anwar.

Gubernur optimistis industri nikel di Parigi Moutong membuka lapangan kerja luas dan mendukung pengembangan mobil listrik berbasis baterai, menggunakan ore nikel setengah jadi dari Morowali.

Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, menyatakan pembangunan saat ini berjalan lambat. “Perusahaan baru mengembangkan sekitar 300 hektare. Mereka mulai membangun setelah mencapai 1.000 hektare di Desa Towera dan sekitarnya,” ujarnya.

Perusahaan yang membangun industri nikel di Siniu masih belum pasti. Sebelumnya muncul nama PT ATHI, kini kabarnya PT Anugerah Tambang Smelter (ATS) mengambil alih proyek tersebut.

Penulis : Muh Tauhid | Editor : Muh Taufan