KANTOR Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah memaparkan perkembangan transaksi non tunai di Kota Palu melalui penggunaan merchant QRIS.
KPwBI menyampaikan pemaparan tersebut dalam high level meeting bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Palu. Pertemuan berlangsung di Ruang Bantaya Kantor Wali Kota Palu, Senin (9/2/2026).
Asisten Direktur KPwBI Sulteng, Miftahul Choiri, menyatakan bahwa transaksi non tunai berbasis QRIS di Sulteng terus tumbuh pesat.
Sepanjang tahun 2025, volume transaksi QRIS di Sulteng mencapai 19.449.573 transaksi. Angka ini setara dengan sekitar 51 persen dari total transaksi non tunai di 12 kabupaten dan kota.
“Kota Palu menjadi pusat merchant QRIS di Sulawesi Tengah. Kota ini juga berperan sebagai kontributor utama transaksi non tunai,” ungkap Miftahul.
Ia menjelaskan, transaksi digital di Palu berkembang sangat signifikan.
“Pada Triwulan IV 2025, volume transaksi QRIS di Palu mencapai sekitar 19 juta transaksi. Angka tersebut tumbuh 142 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” tegasnya.
Dari sisi jumlah merchant, Palu mendominasi sebaran merchant QRIS di Sulteng. Jumlahnya mencapai 98.133 merchant atau 32,68 persen dari keseluruhan merchant.
Kabupaten Banggai menempati posisi berikutnya dengan 36.332 merchant atau 12,10 persen. Kabupaten Parigi Moutong menyusul dengan 36.063 merchant atau 12,01 persen.
Pemaparan ini menegaskan komitmen Bank Indonesia bersama Pemkot Palu. Kedua pihak terus mendorong percepatan digitalisasi sistem pembayaran.
Langkah tersebut bertujuan menciptakan transaksi yang efisien, aman, dan inklusif bagi masyarakat.
Penulis : Rusdia | Editor : Muh Taufan













