Nasional

Vaksinasi Meningitis Jadi Kunci Keselamatan Jemaah Haji

×

Vaksinasi Meningitis Jadi Kunci Keselamatan Jemaah Haji

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Terintegrasi Tahun 1446H/2025M menerima suntikkan vaksin meningitis gratis dari Kemenkes di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (19/4/2025). Foto: Kemenkes/HO

PERHIMPUNAN Kedokteran Haji Indonesia (Perdokhi) menekankan pentingnya edukasi vaksinasi yang masif, terstruktur, dan terukur bagi calon jemaah haji. Langkah ini bertujuan menjaga keselamatan dan kesehatan jemaah selama beribadah di Tanah Suci.

Ketua Umum Perdokhi, Syarief Hasan Lutfie, menegaskan bahwa jemaah perlu memahami manfaat vaksinasi secara menyeluruh, bukan hanya sebagai syarat administrasi.

Vaksin bukan hanya syarat. Mereka harus sayang pada badannya sendiri,” ujarnya dikutip dari Mediaindonesia.com, Senin (8/12/2025).

Syarief menyampaikan, bahwa memberi pemahaman tentang fungsi dan manfaat vaksin masih menjadi tantangan besar. Minimnya pengetahuan kesehatan di kalangan jemaah sering menghambat program vaksinasi.

“Jemaah kita perlu memahami fungsi dan manfaat vaksin bagi diri mereka,” ujarnya.

Ia juga menyoroti beragamnya latar belakang budaya dan tingkat pendidikan jemaah haji Indonesia. Kondisi ini menuntut pendekatan khusus yang berbeda dengan jemaah di kota besar.

Vaksinasi Meningitis dan Kesiapan Fisik

Syarief menjelaskan bahwa vaksinasi sangat efektif melindungi jemaah, terutama vaksin meningitis yang berhasil menekan kasus meningokokus invasif sejak musim haji dan umrah 2001.

Pemerintah Arab Saudi mewajibkan seluruh pendatang menerima vaksinasi untuk mencegah penularan penyakit tersebut.

Oleh karena itu, calon haji harus mendapatkan vaksin meningitis konjugat paling lambat 10 hari sebelum keberangkatan di fasilitas kesehatan yang menerbitkan Electronic-International Certificate of Vaccination (e-ICV).

Ia juga mengingatkan pentingnya kondisi fisik yang prima. Banyak jemaah, terutama lansia dengan pengetahuan kesehatan rendah, tetap memaksakan diri berangkat hingga akhirnya jatuh sakit karena fisik tidak mampu menahan beban ibadah.

“Banyak jemaah lansia yang nekat berangkat dan akhirnya terkapar karena fisiknya tidak mampu,” kata Syarief.

Pentingnya “Menabung Energi

Untuk mengatasi persoalan ini, Syarief mendorong instansi pemerintah, tokoh agama, dan pemuka masyarakat terus mengedukasi calon jemaah tentang persiapan fisik dan kesehatan.

Ia menganjurkan calon haji menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan rutin berolahraga untuk membangun kekuatan otot, kesehatan jantung, serta pernapasan. Latihan idealnya berlangsung tiga bulan hingga satu tahun sebelum keberangkatan.

“Menabung energi di otot dan lemak itu tidak bisa instan. Perlu waktu dan tahapan sampai endurance mereka benar-benar baik. Itu akan memperkuat daya tahan, ditambah vaksinasinya,” tutup Syarief.