INDONESIA kini mencatat rasio kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia. Jika dihitung per jumlah penduduk, angka ini bahkan melampaui India.
Pemerintah menyatakan banyak orang dengan TBC belum terdeteksi, sehingga penularan terus terjadi di masyarakat.
Kondisi ini membuat beberapa kelompok lebih berisiko terinfeksi dan jatuh sakit. Faktor daya tahan tubuh, penyakit penyerta, dan lingkungan tempat tinggal menentukan risiko tersebut.
Dikutip dari Kompas.com, Sabtu (31/1/2026), Wakil Menteri Kesehatan II Benjamin Paulus Octavianus menyebut Indonesia mencatat 386 kasus TBC per 100.000 penduduk. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding India yang mencatat 190 kasus per 100.000 penduduk.
Tingginya angka menunjukkan penularan TBC di Indonesia masih aktif. Benjamin menjelaskan, karakter TBC yang berkembang perlahan membuat banyak penderita tetap beraktivitas pada fase awal.
“Akibatnya, penyakit sering luput dari perhatian dan penderita tidak segera mengobati diri,” kata Benjamin.
Faktor Risiko TBC
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menegaskan siapa pun bisa terinfeksi TBC.
Namun, risiko berkembang menjadi TBC aktif lebih tinggi pada orang dengan sistem imun lemah. Kelompok ini meliputi penderita HIV, diabetes, penyakit ginjal berat, kanker kepala dan leher, serta pasien yang menjalani terapi imunosupresif.
Orang dengan daya tahan tubuh lemah kesulitan mengendalikan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Diabetes dan malnutrisi
Jurnal Pulmonary Medicine menyebut diabetes sebagai faktor risiko utama TBC di negara berkembang. Penderita diabetes tiga kali lebih berisiko mengalami TBC aktif dibanding orang tanpa diabetes.
Kondisi gizi buruk melemahkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, dan memperlambat penyembuhan.
Anak-anak, lansia, dan perokok
CDC menempatkan anak-anak di bawah usia lima tahun sebagai kelompok berisiko tinggi karena sistem imun belum matang. Lansia menghadapi risiko serupa akibat penurunan fungsi kekebalan tubuh.
Perokok lebih rentan karena paparan asap rokok merusak pertahanan paru-paru dan mempermudah bakteri TBC bertahan dan berkembang. Perokok memiliki risiko dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi dibanding non-perokok.
Lingkungan padat dan ventilasi buruk
Rumah padat penghuni, ventilasi minim, dan kurang sinar matahari mempermudah bakteri TBC bertahan lama.
Benjamin menyebut, kuman TBC bisa hidup hingga enam bulan di rumah lembap tanpa cahaya matahari, tetapi mati dalam 15–30 menit jika terkena sinar matahari langsung.
Pemerintah menyatakan banyak kasus TBC masih belum terdeteksi. Di Kulon Progo, misalnya, petugas melaporkan baru separuh kasus dari estimasi. Ratusan penderita berisiko menularkan penyakit di lingkungannya.
CDC menegaskan, orang dapat mencegah dan menyembuhkan TBC jika mereka mendeteksi penyakit lebih awal dan menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.
Pemeriksaan dini pada kelompok berisiko menjadi kunci menekan penularan dan menurunkan beban TBC nasional.
Sumber : Kompas.com | Editor : Muh Taufan













