KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mengakselerasi program hilirisasi batu bara melalui pengembangan proyek gasifikasi. Proyek ini diarahkan untuk menghasilkan dimethyl ether (DME) yang diproyeksikan sebagai substitusi LPG.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung menjelaskan, hidrogen memegang peranan strategis dalam pengembangan rantai nilai batu bara berkalori rendah.
Melalui proses gasifikasi, batu bara dapat diolah menjadi hidrogen yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi DME.
“Dalam konteks hilirisasi, hidrogen berperan penting dalam pengembangan rantai nilai batu bara. Batu bara berkalori rendah dapat ditingkatkan nilai ekonominya melalui proses gasifikasi yang menghasilkan hidrogen, kemudian diolah menjadi dimethyl ether,” ujar Yuliot dikutip dari CNBC, Rabu (11/2/2026).
Ia mengungkapkan, salah satu proyek strategis gasifikasi batu bara yang tengah dikembangkan saat ini berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, dan telah memasuki tahap peletakan batu pertama (groundbreaking).
Dalam proyek tersebut, batu bara yang diolah diperkirakan mencapai sekitar 6 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, produksi DME ditargetkan mencapai 1,4 juta ton per tahun.
Yuliot menambahkan, keberadaan proyek ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG sekaligus meningkatkan nilai tambah batu bara dalam negeri.
“Dengan kapasitas tersebut, proyek ini berpotensi menekan impor LPG hingga sekitar 1 juta ton per tahun. Artinya, negara dapat menghemat devisa sekitar Rp9,7 triliun per tahun,” tandasnya.
Sumber : CNBS Indonesia | Editor : Muh Taufan













