NASA memperingatkan kenaikan permukaan laut global hingga 0,9–1,8 meter pada akhir abad ini. Peningkatan tersebut terjadi akibat pemanasan global yang mencairkan es di kutub dan memuai air laut. Akibatnya, ratusan juta penduduk pesisir di pelbagai belahan dunia terancam kehilangan tempat tinggal.
Di sisi lain, Indonesia termasuk wilayah yang sangat rentan. Jakarta masuk dalam daftar kota berisiko tinggi. Bahkan, dikutip dari laman Sciencing, Sabtu (14/2/2026), menyebut Jakarta sebagai salah satu kota dengan laju penurunan tanah tercepat di dunia.
Sebenarnya, ancaman ini bukan hal baru. Banjir besar telah berulang kali melanda Jakarta dan wilayah sekitarnya. Sebagai contoh, pada awal Maret 2025, banjir kembali merendam kawasan Jabodetabek dan sebagian Jawa. Bekasi bahkan mencatat banjir yang melampaui kejadian pada 2016 dan 2020.
Secara geografis, Jakarta berada di dataran rendah bekas rawa. Sebanyak 13 sungai melintasi kota ini dan bermuara ke Laut Jawa. Kondisi tersebut, ditambah kenaikan muka laut dan cuaca ekstrem, semakin memperbesar risiko bencana.
Tidak hanya itu, banjir besar pada 2007 menewaskan sekitar 80 orang dan menimbulkan kerugian besar. Karena risiko jangka panjang tersebut, pemerintah memutuskan memindahkan pusat pemerintahan ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Pemerintah menargetkan pembangunan IKN rampung pada 2045.
Kota-Kota Dunia yang Terancam
Selain Jakarta, sejumlah kota besar lain juga menghadapi ancaman serupa:
- Alexandria, Mesir – Berpotensi kehilangan sekitar 30 persen wilayah pada 2050.
- Miami, AS – Sebagian besar wilayahnya hanya beberapa meter di atas permukaan laut.
- Lagos, Nigeria – Mengalami penurunan tanah dan banjir musiman.
- Dhaka, Bangladesh – Sangat rentan terhadap banjir dan badai.
- Yangon, Myanmar – Terancam banjir dan aktivitas tektonik.
- Bangkok, Thailand – Mengalami penurunan tanah dan abrasi pantai.
- Kolkata, India – Terancam banjir dan ekstraksi air tanah berlebih.
- Manila, Filipina – Menghadapi kenaikan muka laut dan hilangnya mangrove.
- Kawasan Guangdong-Hong Kong-Makau – Berisiko terdampak kenaikan laut dalam skala besar.
Lebih lanjut, para ilmuwan menegaskan bahwa kenaikan muka laut memang berlangsung bertahap, tetapi dampaknya bersifat permanen. Oleh karena itu, tanpa pengurangan emisi dan perlindungan ekosistem pesisir, kota-kota pantai akan menghadapi risiko yang semakin besar.
“Khusus di Indonesia, ancaman tidak hanya mengintai Jakarta. Kota-kota seperti Semarang dan Surabaya juga mengalami penurunan tanah dan banjir rob,”
Pemerintah daerah perlu memperkuat tanggul, memulihkan hutan mangrove, serta membenahi tata kelola air. Jika tidak, sebagian wilayah pesisir Indonesia berisiko hilang akibat kenaikan permukaan laut.
Sumber: Sciencing/CNBC Indonesia | Editor: Muh Taufan













