FORUM Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah mengunjungi kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali.
Kunjungan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus memperkuat kolaborasi dalam menjaga kerukunan dan moderasi beragama di tengah keragaman masyarakat industri.
Perwakilan manajemen PT IMIP, Joko Suprapto, menyebut Bahodopi kini menjadi miniatur Indonesia. Di sana hidup berdampingan berbagai suku, agama, dan budaya. Menurutnya, perbedaan itu harus terus diimbangi dengan sosialisasi serta penguatan nilai toleransi.
Joko juga menegaskan, perusahaan memberi perhatian pada sarana peribadatan.
“Hingga kini terdapat lebih dari 66 masjid besar maupun kecil di dalam kawasan industri. Fasilitas ini memudahkan karyawan muslim beribadah tanpa harus jauh dari lokasi kerja,” ungkapnya, Kamis (25/9/2025).
Ketua FKUB Sulteng, Profesor Zainal Abidin, mencontohkan praktik toleransi yang sudah berjalan di Bahodopi. Misalnya, Ponpes Darud Dakwah wal Irsyad sepakat meliburkan sekolah pada hari Minggu.
Tujuannya agar tidak mengganggu umat Kristiani yang beribadah, meski aturan organisasi menetapkan libur di hari Jumat.
“Menurut saya, ini nilai toleransi yang luar biasa. Akidah tetap terjaga, tetapi kerukunan antarumat beragama juga tumbuh. Hal seperti ini harus terus kita ajarkan kepada generasi muda. Bahwa walaupun berbeda, kita bisa bekerja sama dengan baik,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Zainal juga mengapresiasi prestasi PT IMIP yang meraih tiga penghargaan di ajang Asian Impact Award 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Penghargaan itu meliputi kategori pengelolaan lingkungan, pelayanan kesehatan dan kesejahteraan sosial, serta kemitraan komunitas dan perusahaan.
Ia menegaskan, keragaman suku, agama, dan budaya di kawasan industri PT IMIP di Bahodopi harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.
“Kolaborasi ini penting untuk mencegah konflik sosial dan memperkuat persaudaraan,” tandas Zainal.
Rilis | Editor : Muh Taufan













