FORUM Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah bersama Pemerintah Desa Bahomakmur, Kabupaten Morowali menggelar sosialisasi penguatan moderasi beragama sekaligus pencegahan bullying.
Kegiatan ini berlangsung di SMK Alkhairaat Bahodopi, SMA Negeri 1 Bahodopi, dan Pondok Pesantren Darud Dakwah wal Irsyad (DDI) Al Ittihad Bahodopi, Rabu (24/9/2025) lalu.
Ketua FKUB Sulteng, Profesor Zainal Abidin, menegaskan di hadapan para santri bahwa moderasi beragama tidak hanya menyangkut perbedaan keyakinan, tetapi juga keberagaman bahasa, budaya, dan adat yang kerap menimbulkan kesalahpahaman.
“Jangankan agama, beda bahasa saja bisa membuat orang bertikai. Padahal perbedaan adalah ketetapan Tuhan. Bahkan anak kembar pun punya keinginan berbeda. Menghormati perbedaan berarti menghormati Sang Pencipta,” terang Zainal dalam saran pers yang Eranesia.id terima, Jumat (26/9/2025).
Ia menekankan, pentingnya memberi pemahaman sejak dini kepada pelajar bahwa keberagaman merupakan kekayaan bangsa, bukan sumber pertentangan. Menurutnya, hidup berdampingan dalam perbedaan adalah hal wajar.
“Begitu juga dengan pencegahan perundungan di sekolah. FKUB hadir untuk memastikan upaya ini berjalan agar tidak ada lagi kasus bullying di kalangan siswa,” tambahnya.
Kepala Desa Bahomakmur, Sutarni, menyebut wilayahnya sebagai miniatur Indonesia karena dihuni sekitar 1.078 kepala keluarga dari berbagai latar belakang.
“Di desa ini ada lima agama dan 19 suku yang hidup berdampingan. Ada masjid, gereja, sekolah umum, dan pesantren. Semua harus kita jaga bersama agar tetap rukun dan damai,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan pesantren menjadi benteng moral sekaligus pendidikan generasi muda di tengah pesatnya industri di Bahodopi.
“Kami berharap pesantren terus berkembang karena anak-anak butuh tempat belajar agama. Tidak hanya Islam, agama lain pun kami fasilitasi rumah ibadahnya, asalkan lahannya tersedia,” tutup Sutarni.
Rilis | Editor : Muh Taufan













