KETUA Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Profesor Zainal Abidin melontarkan pernyataan yang tak biasa seusai menandatangani kesepakatan kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten Donggala.
Dalam suasana pertemuan yang hangat di ruang kerja bupati, Rabu (12/11/2025) lalu, Zainal membandingkan Donggala dengan salah satu kota paling kosmopolit di dunia, New York.
“Sekarang banyak orang bangga New York dipimpin seorang muslim. Tapi saya melihat hal yang sama di Donggala. Bedanya, di sini justru seorang non-muslim yang memimpin masyarakat mayoritas muslim, dan mereka bisa hidup rukun,” ujarnya dalam siaran pers yang Eranesia.id terima, Kamis (13/11/2025).
Simbol Harmoni dari Timur Indonesia
Pernyataan Zainal bukan sekadar perbandingan simbolik. Ia ingin menegaskan, bahwa Donggala telah menjadi contoh hidup bagaimana toleransi tumbuh dalam keseharian masyarakat, bukan hanya dalam forum-forum seremonial.
Kabupaten yang dipimpin Bupati Vera Elena Laruni, perempuan dari kalangan minoritas non-muslim, menunjukkan wajah lain dari Indonesia yang beragam.
Bukan tanpa tantangan, tapi masyarakat Donggala telah membuktikan kedewasaan mereka dalam menerima perbedaan.
“Bagi kami di FKUB, MoU ini bukan soal proyek atau anggaran. Ini soal komitmen moral untuk menjaga harmoni. Kami ingin memperluas pendidikan dan sosialisasi moderasi beragama hingga ke desa-desa,” ungkap Zainal.
Kesepakatan yang diteken bersama itu menjadi dasar kerja sama strategis antara FKUB Sulteng dan Pemkab Donggala dalam program edukasi dan pemberdayaan masyarakat berbasis moderasi beragama.
Bagi Zainal, kerja sama ini bermakna lebih dari sekadar legalitas administratif. Ia menyebutnya sebagai “pintu masuk” agar FKUB dapat berkolaborasi lebih luas dalam menjaga harmoni di tengah perbedaan.
“Pemerintah Donggala telah membuka jalan bagi FKUB untuk menyebarkan nilai moderasi beragama. Kami ingin memastikan pesan ini hadir hingga ke tingkat paling bawah,” katanya.
Sekretaris Umum FKUB Sulteng, Dr Muh Munif Godal, bersama jajaran pengurus lainnya turut mendampingi dalam pertemuan tersebut.
Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, yang menerima langsung rombongan FKUB, menyambut penuh apresiasi. Ia mengaku tersentuh dengan pandangan Profesor Zainal.
“Bagi kami, ini kehormatan besar. FKUB memberi perhatian khusus kepada Donggala,” ujarnya.
Vera tak menampik bahwa dalam kontestasi politik sebelumnya, isu identitas sempat digunakan oleh pihak tertentu. Namun, masyarakat Donggala mampu membuktikan kedewasaan mereka.
“Masyarakat memberi saya kepercayaan untuk memimpin, meski saya berasal dari kelompok minoritas. Itu bukti bahwa kematangan beragama dan sosial di Donggala sudah tumbuh dengan baik,” tuturnya.
Kerukunan yang Menginspirasi
Pertemuan di Donggala hari itu tidak sekadar seremoni penandatanganan. Ia menjadi refleksi bahwa harmoni antarumat bisa lahir dari saling percaya, bukan dari keseragaman.
Zainal menutup pernyataannya dengan kalimat yang sarat makna: “Kalau New York bisa menjadi simbol toleransi dunia, maka Donggala bisa menjadi simbol toleransi Indonesia Timur.”
Rilis | Editor : Muh Taufan













