Regional

MUI Palu Soroti Hiburan Tak Pantas dalam Peringatan Isra Mikraj di Banyuwangi

×

MUI Palu Soroti Hiburan Tak Pantas dalam Peringatan Isra Mikraj di Banyuwangi

Sebarkan artikel ini
Ketua FKUB Sulteng, Profesor KH Zainal Abidin. Foto: HO/Eranesia.id

KETUA Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Profesor Zainal Abidin, menyampaikan keprihatinannya atas beredarnya video pertunjukan tari yang dinilai tidak selaras dengan nilai-nilai keagamaan dalam rangkaian peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.

Video tersebut diketahui berasal dari sebuah acara peringatan Isra Mikraj yang digelar di Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jumat 16 Januari 2026.

Menurut Zainal, peringatan Isra Mikraj merupakan momentum religius yang memiliki makna spiritual mendalam bagi umat Islam.

Oleh karena itu, seluruh rangkaian kegiatan seharusnya mencerminkan suasana ibadah, dakwah, serta penguatan akhlak, bukan justru menghadirkan hiburan yang berpotensi menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat.

Isra Mikraj bukan sekadar seremoni, tetapi peristiwa penting dalam sejarah Islam yang sarat dengan pesan keimanan. Sudah semestinya peringatan ini diisi dengan kegiatan yang menjaga nilai kesakralan dan kekhusyukan,” ujar Zainal di Palu, Sabtu (17/1/2026).

Ulama yang juga menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menegaskan bahwa bentuk hiburan yang bertentangan dengan norma agama dan etika tidak selayaknya ditampilkan dalam acara keagamaan.

Ia menilai, peristiwa tersebut perlu dijadikan bahan introspeksi bersama, khususnya bagi para panitia dan pihak penyelenggara, agar ke depan lebih cermat dalam merancang kegiatan hari besar keagamaan.

Meski demikian, Zainal mengimbau agar polemik yang muncul tidak berkembang menjadi perdebatan berkepanjangan atau memicu kegaduhan sosial.

Guru Besar UIN Datokarama Palu itu juga mengajak masyarakat untuk menyikapi persoalan ini secara arif dan proporsional, dengan tetap mengedepankan nilai persaudaraan dan persatuan umat.

“Tidak perlu saling menyalahkan. Yang terpenting adalah menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi bersama demi menjaga marwah kegiatan keagamaan dan keharmonisan kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.

Zainal berharap, ke depan setiap peringatan hari besar keagamaan dapat dilaksanakan dengan lebih tertib, bermartabat, dan sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama.

Dengan demikian, kegiatan keagamaan tidak hanya menjadi sarana peringatan, tetapi juga mampu memperkuat ukhuwah, baik di internal umat Islam maupun dalam kehidupan antarumat beragama.

Sebelumnya, sebuah video yang memperlihatkan penampilan biduan dengan tarian dan busana yang dinilai tidak sesuai dengan konteks acara keagamaan beredar luas di media sosial.

Video tersebut memicu beragam reaksi warganet, meskipun dalam rekaman tidak terlihat adanya penolakan atau protes dari para hadirin di lokasi acara.

Rilis | Editor : Muh Taufan