REKTOR Universitas Islam Negeri UIN Datokarama (UINDak) Palu, Profesor Lukman S Thahir, mengajak masyarakat khususnya umat Islam, untuk melakukan rekonsiliasi batin pada momentum Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Ia menekankan, rekonsiliasi batin yang diwujudkan dengan meredam ego serta mengasah spiritualitas menjadi kunci untuk kembali pada fitrah setelah menjalani pendidikan spiritual selama bulan Ramadan.
Menurutnya, tidak sedikit orang yang terjebak dalam tuntutan sosial untuk berdamai dengan orang lain, namun pada saat yang sama masih menyimpan “perang” dalam dirinya sendiri.
“Maka, esensi dari rekonsiliasi batin, meredam ego, dan mengasah spiritualitas adalah berdamai dengan diri sendiri,” kata Lukman saat bertindak sebagai khatib Idulfitri di Masjid Al-Abrar, Kelurahan Lere, Kota Palu, Sabtu, 21 Maret 2026.
Dalam khutbahnya yang berjudul “Idulfitri dan Saatnya Berdamai dengan Diri Sendiri”, ia menegaskan, pentingnya kesadaran diri sebagai fondasi kebahagiaan.
Lukman menjelaskan, ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri, ia akan lebih mudah mensyukuri apa yang dimiliki dan tidak lagi terjebak dalam perasaan kurang atau tidak cukup.
“Orang yang berdamai dengan dirinya tidak akan terus-menerus merasa kurang, karena ia mampu menerima dan menghargai apa yang ada,” ujarnya.
Lebih lanjut, Lukman mengingatkan, bahwa kebiasaan melawan diri sendiri, membandingkan hidup dengan orang lain, atau menyesali masa lalu hanya akan menambah tekanan mental.
“Dengan menerima diri sendiri, kita bisa hidup lebih tenang dan terbebas dari beban yang tidak perlu,” tegasnya.
Pada momentum Idulfitri ini, Lukman menguraikan, tiga langkah penting untuk belajar berdamai dengan diri sendiri.
Pertama, menerima kekurangan dan kegagalan dengan menjadikan kesalahan sebagai guru kehidupan. Kesalahan, menurutnya, tidak perlu disesali secara berlarut-larut.
Ia mengutip hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad:
“Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat,” sebut Lukman.
Dari hadis tersebut, ia menegaskan, kesalahan justru menjadi sarana untuk memahami kelemahan diri sekaligus memperbaikinya.
Kedua, berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Berdamai dengan diri sendiri berarti menerima sepenuhnya kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.
Hal ini, kata Lukman, sejalan dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah,” katanya.
Ketiga, belajar memaafkan diri sendiri sebagai langkah esensial untuk berdamai dengan masa lalu dan melangkah ke depan dengan lebih ringan.
“Semoga Allah senantiasa membimbing, melindungi, dan menuntun kita menjadi hamba yang pandai bersyukur,” pungkas Lukman.
Advertorial | Editor : Muh Taufan














