PAGI itu halaman Polres Poso menghadirkan suasana yang tak biasa. Di bawah langit akhir tahun yang cerah dan udara yang terasa sejuk, ratusan orang dari pelbagai latar belakang keyakinan duduk berdampingan.
Tak ada sekat, tak ada jarak. Kepala tertunduk, tangan terkatup, doa pun dipanjatkan bersama.
Pemandangan ini seolah menjadi potret kecil Poso yang terus belajar berdamai dengan sejarahnya.
Di tempat yang identik dengan penegakan hukum, pagi itu justru tumbuh keheningan spiritual, sebuah ruang bersama untuk harapan dan kemanusiaan.
Di atas panggung sederhana, hadir sosok cendekiawan muslim ternama, Profesor Zainal Abidin.
Dengan suara tenang dan tutur kata yang menyejukkan, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah itu mengajak hadirin merenungi makna menjadi manusia di tengah perbedaan.
Mengusung tema “Memperkuat Toleransi, Membangun Poso, Mengokohkan Negeri”, Zainal membuka ceramahnya dengan sebuah fakta sederhana namun mendasar: semua agama lahir dengan pesan yang sama damai.
Ia mengajak jamaah menelusuri makna salam dalam setiap agama. Assalamu’alaikum dalam Islam, Shalom dalam Kristen, hingga Om Shanti Shanti Shanti Om dalam Hindu.
Semuanya bermuara pada satu doa: kedamaian dan kesejahteraan bagi sesama.
“Artinya, semua agama itu mengajarkan kedamaian di antara kita. Jika persamaan nilai seperti ini yang kita kedepankan, saya yakin kehidupan beragama akan terbangun harmonis dan rukun,” ungkap Rais Syuriyah PBNU itu, disambut anggukan setuju para hadirin, Sabtu (27/12/2025).
Tak menghindar dari isu yang kerap mengemuka setiap akhir tahun, Zainal juga menyinggung perdebatan seputar ucapan Natal.
Dengan bijak, Guru Besar UIN Datokarama Palu menjelaskan bahwa dalam khazanah keilmuan Islam terdapat perbedaan pandangan ulama ada yang membolehkan, ada pula yang tidak masing-masing dengan dalilnya.
Yang terpenting, menurutnya, bukan soal memilih pendapat mana, melainkan bagaimana bersikap dewasa terhadap perbedaan.
“Silakan ikuti salah satu pandangan ulama. Yang tidak boleh adalah menyalahkan pendapat yang tidak sesuai dengan keinginan kita,” tegasnya.
Bagi Zainal, agama sejatinya hadir untuk membahagiakan pemeluknya. Guru Besar UIN Datokarama Palu itu mengingatkan bahwa agama adalah jalan Tuhan untuk menghadirkan kebahagiaan bagi manusia kebahagiaan yang hanya bisa diraih jika dijalani secara moderat.
“Jangankan antaragama, di dalam satu agama saja perbedaan itu tidak bisa dihindari. Di sinilah pentingnya menghormati perbedaan dan mengedepankan persamaan,” tambahnya.
Suasana semakin hangat ketika Zainal mengutip pesan filosofis Ali bin Abi Thalib.
Ia menyebutkan, seluruh manusia adalah saudara. Jika bukan saudara seagama, maka mereka adalah saudara dalam kemanusiaan.
“Kita ini, kalau tidak saudara karena agama, berarti kita bersaudara karena sama-sama manusia. Anda adalah saudara saya karena kita sama-sama ciptaan Tuhan,” pungkasnya.
Tepuk tangan pun menggema. Para tokoh lintas agama yang hadir, bersama Kapolres Poso AKBP Alowisius Londar, menyambut pesan itu dengan senyum dan kehangatan.
Pagi itu, Polres Poso bukan sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi menjadi simbol, bahwa damai bukan hanya wacana, melainkan sesuatu yang bisa dirawat bersama, dalam doa dan saling pengertian.
Editor : Muh Taufan













