AROMA manis yang keluar dari bara api itu belakangan kerap mengundang langkah warga untuk berhenti sejenak.
Di sudut Kota Palu, terutama sore hingga malam hari, antrean kecil mulai terbentuk di depan mobil terbuka yang menjajakan satu menu sederhana.
Ubi madu bakar Cilembu namanya. Ubi khas dari Cilembu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat ini memang tengah naik daun di Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Bukan sekadar ubi bakar biasa, ubi Cilembu dikenal memiliki rasa manis alami yang keluar seperti madu saat dipanggang, dengan tekstur lembut yang lumer di mulut.
Pedagang Yanto, mengaku tak menyangka antusias warga Palu begitu tinggi dengan jualannya.
Padahal, lapak mereka baru beberapa hari beroperasi di kota ini.
“Awalnya banyak yang cuma penasaran. Tapi setelah coba, biasanya balik lagi. Rasanya manis, legit, beda dengan ubi yang lain,” ungkap Yanto kepada Eranesia.id, Rabu (31/12/2025).
Dalam sehari, stok ubi bisa habis hingga 100 kilo gram. Tak sedikit pembeli yang datang bukan hanya untuk camilan sore, tetapi juga membungkusnya sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah.
Ubi madu Cilembu dijual dalam dua pilihan. Untuk ubi mentah, harganya Rp35.000 per kilo gram.
Sementara ubi yang sudah melalui proses pemanggangan dijual Rp45.000 per kilo gram.Harga tersebut sebanding dengan proses yang dilalui.
Yanto menjelaskan, memanggang ubi madu Cilembu tidak bisa terburu-buru. Dibutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sekali panggang agar sari manis alaminya keluar sempurna.
“Kalau apinya kurang atau waktunya singkat, madunya tidak keluar. Prosesnya lama, gas juga cukup banyak,” ujarnya sambil sesekali membalik ubi di atas panggangan.
Salah satu warga Palu, Sinta mengaku ketagihan dengan ubi Cilembu setelah sebelumnya pernah mencoba sekali.
“Kemarin coba mama yang belikan, karena ketagihan saya datang lagi untuk beli. Rasanya manis, enak,” ungkapnya.
Meski harus antre panjang, tidak menjadi soal. Warga Palu sudah terlanjur jatuh cinta dengan ubi Cilembu.
“Dua kali sudah kesini selalu antre, tapi biar antre tetap dapat. Dengan rasa seenak itu harganya sesuai lah,” imbuh warga Palu lainnya, Ratna Wati.
Sebelum singgah di Palu, rombongan penjual ubi madu bakar ini telah berkeliling di sejumlah daerah di Pulau Kalimantan.
Palu menjadi salah satu persinggahan yang paling ramai peminat.
Untuk melayani pembeli, mereka mengoperasikan empat mobil open cup yang tersebar di beberapa titik strategis, seperti Jalan Hang Tuah dan sekitar Lapangan Vatulemo.
Tingginya minat warga membuat mereka memilih “menetap” sementara di Palu. Namun perjalanan belum berakhir.
Setelah ini, mereka berencana melanjutkan perjalanan ke Gorontalo, Manado, dan kota-kota lainnya.
Di tengah ramainya jajanan kekinian, ubi madu bakar Cilembu hadir dengan kesederhanaannya.
Hangat, manis, dan legit cukup untuk membuat siapa pun kembali mengantre, menunggu ubi yang perlahan mengeluarkan madunya di atas bara api.
Penulis : Rusdia | Editor : Muh Taufan













