Senyum Kembali Merekah Setelah 13 Hari Terombang-ambing di Laut Lepas
Sebarkan artikel ini
Sejumlah warga Filipina saat tiba di kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, Minggu (25/1/2026). Foto: Rusdia/Eranesia.id
SENYUM lega bercampur haru perlahan merekah di wajah sejumlah Warga Negara Asing (WNA) asal Filipina saat mereka melangkahkan kaki di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu.
Perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian akhirnya berujung pada satu hal yang paling mereka syukuri, selamat. Sebelumnya, mereka tak pernah membayangkan akan berakhir di Sulawesi Tengah.
Perahu yang membawa mereka dari Malaysia menuju Filipina mengalami kecelakaan di tengah laut. Sebuah batang kayu besar menghantam lambung kapal, membuat perahu bocor dan perlahan kehilangan daya apung. Sejak saat itu, laut lepas menjadi rumah yang tak pernah mereka inginkan.
Hari pertama masih memberi harapan. Namun memasuki hari kedua, kebocoran semakin parah. Perahu tak lagi bisa dikendalikan. Arus laut membawa mereka menjauh, hingga akhirnya terombang-ambing tanpa arah selama 13 hari.
“Kami bertahan hidup hanya dengan air hujan,” tutur Banjir, salah satu korban, dengan suara pelan saat ditemui di kantor Imigrasi Palu, Minggu (25/1/2026).
Jika hujan tak turun, mereka terpaksa meneguk air laut demi bertahan hidup. Setiap tetes hujan menjadi berkah.
Dalam kondisi darurat, Banjir bahkan nekat berenang saat melihat tumpukan sampah mengapung. Harapannya sederhana, menemukan sisa makanan.
“Yang penting anak-anak bisa makan,” katanya lirih.
Ia dan rombongannya kerap bolak-balik dari Malaysia ke Filipina. Sebagian bekerja sebagai nelayan, sebagian lain mencari nafkah di restoran. Foto: Rusdia/Eranesia.id
Tak jauh berbeda, Lisa sesama WNA Filipina, mengaku perjalanan laut bukan hal baru baginya.
Ia dan rombongannya kerap bolak-balik dari Malaysia ke Filipina. Sebagian bekerja sebagai nelayan, sebagian lain mencari nafkah di restoran. Namun, perjalanan kali ini menjadi pengalaman paling mengerikan.
“Biasanya perjalanan lancar. Baru kali ini kami mengalami kecelakaan besar dan terdampar sejauh ini,” ungkapnya.
Nasib akhirnya berpihak pada mereka ketika perahu yang nyaris tak berdaya itu terdampar di perairan Kabupaten Buol. Mereka diselamatkan nelayan setempat dan mendapat penanganan Pemerinah Buol.
Pemerintah Buol Menyambut Baik
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Buol, Mansyur AR Hentu, menerima informasi awal pada Kamis (22/1/2026) malam. Personel TNI Angkatan Laut menyampaikan laporan tersebut.
“Setelah salat Magrib, Angkatan Laut menelepon saya. Mereka melaporkan adanya warga negara asing yang diduga Filipina terdampar di wilayah Buol,” kata Mansyur. Ia menyampaikan keterangan itu melalui sambungan telepon dari Kota Palu, Jumat (23/1/2026).
Nelayan setempat menemukan para korban sekitar 74 mil dari pantai. Mereka melihat speedboat korban mengalami kebocoran. Nelayan kemudian membawa para korban ke Dermaga Nelayan Payapi.
Dermaga tersebut berada di Kelurahan Buol, Kecamatan Biau. Nelayan menemukan para korban sekitar pukul 08.00 WITA. Mereka tiba di dermaga sekitar pukul 18.00 Wita.
“Saat tiba di darat, kondisi mereka sudah sangat lemah. Mereka meminta bantuan makanan,” jelas Mansyur.
Dari total 15 orang, terdapat 7 orang dewasa dan 8 anak-anak. Salah satu anak berusia sekitar 1 tahun.
Warga sekitar segera membantu para korban. Mereka memberikan makanan, minuman, pakaian, dan selimut. Petugas kemudian membawa para korban ke rumah sakit.
Petugas menggunakan tiga unit ambulans dan kendaraan operasional pemerintah daerah untuk evakuasi medis.
“Sebagian besar korban mengalami dehidrasi. Setelah menjalani perawatan, tenaga medis menyatakan kondisi mereka sehat,” ungkap Mansyur.
Rencana pemulangan dilakukan melalui jalur darat menuju Manado. Selanjutnya, Konsulat Filipina di Manado akan menangani proses kepulangan ke negara asal. Foto: Rusdia/Eranesia.id
Pemerintah Buol menanggung seluruh biaya penanganan. Biaya tersebut mencakup konsumsi, perawatan medis, dan penginapan sementara. Dinas Sosial dan BPBD turut mendukung penanganan di lapangan.
Berdasarkan keterangan sementara, para korban berangkat dari Tawau, Malaysia, menuju Tawi-Tawi, Filipina. Mereka memulai perjalanan pada 9 Januari 2026.
Dalam perjalanan, kapal mereka menabrak batang kayu sekitar pukul 03.00 dini hari. Tabrakan itu membuat kapal bocor. Arus laut kemudian membawa mereka terombang-ambing selama 13 hari hingga masuk ke perairan Buol.
“Awalnya kapal membawa 17 orang. Dua orang melompat ke laut untuk memperbaiki kapal,” kata Mansyur. Namun, keduanya terpisah dan bertahan menggunakan pelampung jeriken.
Saat petugas menemukan para korban, mereka tidak membawa dokumen perjalanan. Pemerintah daerah langsung berkoordinasi dengan Imigrasi Kelas I TPI Palu dan Konsulat Filipina di Manado, Sulawesi Utara.
Informasi tersebut segera ditindaklanjuti oleh petugas Intelijen dan Penindakan Keimigrasian (Inteldakim) Imigrasi Palu.
Petugas melakukan penjemputan dan pengawalan untuk memastikan keselamatan seluruh WNA Filipina tersebut.
Perjalanan darat menuju Palu menjadi babak baru. Bukan lagi tentang bertahan hidup, melainkan tentang pemulihan dan kepastian hukum.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, Muhammad Akmal, menjelaskan bahwa pihaknya menangani para WNA sesuai prosedur keimigrasian.
Imigrasi terlebih dahulu melakukan pemeriksaan dan menyusun Berita Acara Pemeriksaan (BAP).
“Setelah seluruh proses selesai, kami akan memulangkan mereka secepatnya,” kata Akmal.
Dari total 15 orang, terdapat 7 orang dewasa dan 8 anak-anak. Salah satu anak berusia sekitar 1 tahun. Foto: Rusdia/Eranesia.id
Rencana pemulangan dilakukan melalui jalur darat menuju Manado. Selanjutnya, Konsulat Filipina di Manado akan menangani proses kepulangan ke negara asal.
Saat ini, seluruh WNA Filipina tersebut masih berada dalam pengawasan dan penanganan Imigrasi Palu. Mereka menjalani pemulihan fisik dan mental setelah hari-hari panjang yang nyaris merenggut harapan.
Bagi mereka, Palu bukan sekadar tempat singgah. Kota ini menjadi simbol keselamatan akhir dari perjalanan laut yang nyaris tak berujung, dan awal dari kepulangan yang sudah lama mereka rindukan.
Penulis : Rusdia/Taufan Bustan | Editor : Muh Taufan