BANYAK orang sering mengunggah status di media sosial untuk menceritakan aktivitas sehari-hari mereka, seperti makanan yang sedang disantap, barang baru yang dibeli, atau perjalanan yang sedang dilakukan.
Namun, Psikolog sosial Hening Widyastuti mengingatkan, masyarakat untuk berhati-hati saat mengunggah status di media sosial.
“Jika yang diunggah tidak merugikan orang lain, sebenarnya itu baik-baik saja. Tapi, kalau sudah mencaci pihak lain dan sebagainya, itu agak keterlaluan,” jelasnya dalam wawancara dengan Kompas.com, Senin (26/8/2024).
Hening menekankan pentingnya menghindari unggahan yang bersifat menggunjing atau menyindir orang lain, meskipun nama yang dituju tidak disebutkan.
Foto, video, atau tulisan yang diekspos melalui status dapat memicu dampak negatif. Alih-alih meluapkan kekesalan untuk merasa lega, justru akan terus merasa kesal, terutama ketika status tersebut menyinggung pihak lain.
“Jika masih bisa dikendalikan (tidak membuat status yang bisa memicu keributan), maka sebaiknya dikendalikan,” tegasnya.
Hening menjelaskan bahwa salah satu alasan seseorang mengunggah status di media sosial adalah untuk mencari wadah bercerita guna meringankan beban pikiran.
Namun, ketika status yang diunggah malah menyinggung pihak lain dan memicu keributan, hal itu justru menambah beban pikiran.
Pada intinya, keinginan mengunggah status adalah untuk merasa lega. “Keruwetan di pikiran diungkapkan supaya merasa lega. Tapi, jangan sampai menyakiti orang lain, mengajak berantem, atau memicu hal-hal yang negatif,” tandas Hening.
Dalam era digital ini, mengendalikan apa yang diunggah di media sosial menjadi semakin penting untuk menjaga kedamaian dan menghindari konflik yang tidak perlu. KEI













