HeadlineRegional

Gubernur Sulteng Amankan Rp355 Miliar Dana CSR Tambang untuk Infrastruktur Jalan

×

Gubernur Sulteng Amankan Rp355 Miliar Dana CSR Tambang untuk Infrastruktur Jalan

Sebarkan artikel ini
Gubernur Sulteng, Anwar Hafid. Foto: HO/Tim Media AH/Eranesia.id

GUBERNUR Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, sukses mengamankan komitmen dana Corporate Social Responsibility (CSR) Rp355 miliar dari 16 perusahaan tambang di wilayahnya.

Pemprov akan memfokuskan seluruh dana itu untuk mempercepat pembenahan dan pembangunan jalan di sejumlah klaster strategis.

Langkah taktis ini membuktikan keterbatasan fiskal daerah tidak menghentikan laju pembangunan fasilitas publik. Anwar memilih memperkuat sinergi dengan dunia usaha untuk menutup celah pembiayaan infrastruktur, tanpa membebani APBD Sulteng.

“Alhamdulillah, perusahaan tambang memiliki semangat sama untuk berkontribusi bagi pembangunan daerah. Ini bukan untuk pemerintah, tetapi untuk masyarakat Sulawesi Tengah,” ujar Anwar melalui keterangan tertulis, Jumat (12/6/2026).

Inovasi Pembiayaan di Tengah Keterbatasan Fiskal

Pemerintah daerah memproyeksikan pembangunan jalan ini mampu meningkatkan konektivitas ekonomi, memperlancar logistik, serta memangkas ketimpangan akses antarwilayah di Sulteng.

Anwar menegaskan, keterbatasan anggaran menuntut kepala daerah berpikir kreatif.

“Di tengah keterbatasan fiskal, kita harus menghadirkan inovasi. Bagi kami, ini inovasi di tengah efisiensi. Sulawesi Tengah menyambut baik kesepakatan ini karena tujuannya sama, memberi manfaat langsung kepada rakyat,” ungkapnya.

Skema dan Sasaran Pembangunan Jalan

Berdasarkan kesepakatan tertulis, pemprov membagi skema pembiayaan proyek jalan dari konsorsium dana CSR ini ke dalam dua sasaran utama.

Ruas Jalan Towi–Kolonodale: Konsorsium 16 perusahaan tambang berkomitmen mendanai total pembangunan dan peningkatan mutu jalan sepanjang 13 kilometer.

Ruas Jalan Buleleng–Matarape: Satu perusahaan tambang mengambil tanggung jawab eksklusif untuk mendanai dan menuntaskan seluruh proyek fisik di koridor ini.

Anwar berharap, model kemitraan pemda dan swasta ini bisa menjadi percontohan nasional dalam pengelolaan dampak industri.

Menurutnya, sektor ekstraktif yang mengeruk potensi alam sudah sepatutnya memberikan dampak timbal balik instan dan nyata bagi mobilitas warga lokal.