KANTOR Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah mengambil langkah proaktif dalam melindungi masyarakat dari maraknya jeratan aktivitas keuangan ilegal, seperti investasi bodong dan pinjaman daring (pindar) ilegal.
Sepanjang tahun ini hingga triwulan III, OJK Sulteng telah menggelar 128 kegiatan edukasi yang menjangkau 360.742 peserta di satu kota dan sembilan kabupaten.
Kepala OJK Sulteng, Bonny Hardi Putra, menegaskan bahwa masifnya kegiatan ini merupakan bentuk langkah preventif untuk membentengi masyarakat dari kerugian finansial akibat tawaran instrumen keuangan yang tidak berizin.
“Ini sebagian langkah tindak preventif yang kami terus gencarkan di Sulteng. Dengan masifnya kegiatan edukasi ini, masyarakat Sulteng diharapkan bisa benar-benar mengetahui tentang bagaimana aktivitas keuangan yang legal dan ilegal,” ujar Bonny dalam kegiatan Journalist Update Media OJK di Kabupaten Poso, Rabu (14/10/2026).
Bonny juga menambahkan pesan penting dan edukatif bagi masyarakat luas agar lebih waspada terhadap pelbagai modus operandi kejahatan keuangan yang kian marak.
Menurutnya, kejahatan keuangan ilegal menyasar siapa saja dengan iming-iming keuntungan instan yang tidak masuk akal atau kemudahan proses pinjaman yang justru berujung pada teror dan kerugian besar.
”Masyarakat harus memegang prinsip 2L, yaitu Legal (pastikan entitasnya memiliki izin dari lembaga yang berwenang) dan Logis (wajar atau tidaknya hasil atau bunga yang ditawarkan). Jangan mudah tergiur dengan tawaran manis sebelum mengecek kebenarannya melalui Kontak OJK 157,” tandas Bonny.
Palu Mendominasi Kegiatan
Berdasarkan data OJK Sulteng, Kota Palu menjadi wilayah dengan pelaksanaan edukasi terbesar, yakni 92 kegiatan dengan total 309.369 peserta.
Edukasi serupa juga merata disalurkan ke pelbagai kabupaten lain, di antaranya Kabupaten Sigi empat kegiatan dengan 450 peserta, Donggala satu kegiatan 80 peserta, Parigi Moutong empat kegiatan 1.120 peserta, Buol tiga kegiatan 300 peserta, dan Tolitoli enam kegiatan 595 peserta.
Selain itu, Kabupaten Poso tujuh kegiatan 46.798 peserta, Morowali dua kegiatan 80 peserta, Banggai lima kegiatan 1.150 peserta, dan Banggai Kepulauan satu kegiatan 200 peserta.
Melalui langkah masif ini, OJK berharap tingkat literasi keuangan masyarakat Sulawesi Tengah semakin meningkat sehingga tercipta ekosistem keuangan yang aman, sehat, dan terhindar dari praktik-praktik ilegal yang merugikan.













