DI tengah hutan Desa Ululere, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, sekelompok warga Toraja dari rumpun Pong Salamba hidup dalam ketidakpastian.
Di sebuah pondok sederhana, mereka berjaga siang dan malam. Tanpa listrik, tanpa sinyal, hanya dengan tekad mempertahankan tanah leluhur dari ancaman tambang nikel.
Bagi Harniati Irwan, tanah yang mereka pijak bukan sekadar hamparan bumi.
Mereka menyebutnya Langtua, bagian dari hidup keluarga mereka sejak lebih dari seabad lalu.
“Nenek moyang kami, Pong Salamba, memiliki lahan ini sejak 1900. Dulu, tempat ini dikenal sebagai Langtua,” ujarnya di Desa Ululere, Jumat (14/2/2025).
Sejak dahulu, kawasan ini menjadi sumber kehidupan. Perkebunan damar tumbuh subur dan menopang ekonomi sebelum Indonesia merdeka.
Pohon-pohon damar berdiri kokoh, menjadi saksi perjalanan hidup yang diwariskan turun-temurun. Namun, kini mereka merasa seperti tamu di tanah sendiri.
Ancaman di Tanah Ulayat
Warga mengklaim sekitar 8.636 hektare lahan sebagai tanah ulayat, termasuk 4.000 hektare di Sulawesi Tengah. Namun, area ini kini masuk dalam konsesi tambang nikel PT Vale Indonesia Tbk.
Harniati dan warga lainnya baru menyadari situasi ini ketika mereka dilarang membuka lahan dan bercocok tanam.
Tak ada sosialisasi, tak ada perundingan. Mereka merasa tanah leluhur tiba-tiba dirampas.
“Kami tidak pernah diberi tahu bagaimana izin tambang ini keluar, apalagi diajak bicara,” kata Harniati.
“Tiba-tiba, mereka menyerobot tanah kami tanpa sepengetahuan ahli waris,” lanjutnya.
Vale menguasai konsesi tambang nikel seluas 22.699 hektare di Sulawesi Tengah dan 70.566 hektare di Sulawesi Selatan di bawah Kontrak Karya.
Namun bagi warga Pong Salamba, tanah ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini rumah, sejarah, dan warisan yang tak ternilai.
Perjuangan di Tengah Ketidakpastian
Di tengah ketidakpastian, warga Pong Salamba tetap bertahan. Pondok kecil di dalam hutan menjadi simbol perlawanan mereka.
Setiap malam, mereka tidur dengan ketakutan kehilangan tanah leluhur. Namun, mereka tak berniat menyerah.
“Kami akan tetap menjaga tanah ini, apa pun yang terjadi,” tegas Harniati.
Bagi mereka, Langtua bukan hanya warisan leluhur. Ia adalah identitas, rumah, dan kehormatan yang harus mereka jaga meski harus berhadapan dengan kekuatan besar.
Saat beberapa jurnalis mencoba mengonfirmasi, mereka tak bisa menghubungi Manager External Relations for Project Vale, Jemmy Sidjaya.
Hingga berita ini terbit, perusahaan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait sengketa ini. *TAU/MUH













