UNIVERSITAS Islam Negeri Datokarama (UINDak) Palu menjajaki kerja sama dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia. Kerja sama ini fokus pada pemberdayaan mantan narapidana terorisme (eks napiter). Kedua pihak membahas rencana tersebut di Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Pertemuan itu melibatkan tim dari Kemensos. Hadir Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang Rachmat Koesnadi.
Hadir pula Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan Fakir Miskin Ishak Zubaedi Raqib. Selain itu, perwakilan Biro Perencanaan dan Biro Hukum Kemensos turut mengikuti pertemuan.
Kepala Sentra Nipotowe Diah Rini Lesnawati juga hadir dalam pembahasan tersebut. Tenaga Ahli Menteri Sosial Syamsuddin turut bergabung.
Kedua instansi sepakat menyusun Memorandum of Understanding (MoU). MoU tersebut mengatur penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
Kedua pihak juga menyiapkan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Dokumen ini mengatur pemberdayaan sosial bagi eks napiter. Program tersebut akan berjalan melalui pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi.
Ruang lingkup kerja sama cukup luas. Program mencakup rehabilitasi sosial dan pemberdayaan sosial. Kerja sama juga mencakup bimbingan spiritual. Selain itu, kedua pihak akan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
Pertukaran data dan informasi juga menjadi bagian dari kerja sama tersebut.
Rektor UINDak Palu, Profesor Lukman S Thahir menilai, penanganan radikalisme harus berkelanjutan. Upaya tersebut perlu dilakukan dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, kampus selama ini menjalankan program pencegahan radikalisme. Program tersebut menggunakan pendekatan moderasi beragama.
Namun, langkah itu perlu diikuti pemberdayaan ekonomi bagi eks napiter.
“Kami tidak ingin eks napiter hanya bebas secara fisik. Mereka juga harus terbebas dari ideologi ekstrem,” ujar Lukman di Palu, Minggu (8/3/2026).
Ia menyebutkan, kemandirian ekonomi dapat memulihkan martabat mereka.
Menurut Lukman, eks napiter sering menghadapi stigma sosial. Mereka juga kerap menghadapi kesulitan ekonomi.
OIeh karena itu, UINDak dan Kemensos menyiapkan program reintegrasi sosial. Program tersebut menggunakan dua pendekatan utama.
Pendekatan pertama berupa penguatan ideologi dan psikososial. UINDak akan melibatkan pakar moderasi beragama.
Para pakar akan memberikan pendampingan dialogis kepada eks napiter. Pendampingan ini bertujuan menjaga pemahaman keagamaan tetap inklusif.
Pendekatan kedua berupa pemberdayaan ekonomi produktif. Kemensos akan menyalurkan bantuan modal usaha.
Kemensos juga menyiapkan pelatihan keterampilan. Pelatihan tersebut menyesuaikan potensi lokal di setiap daerah.
Direktur Rehabilitasi Sosial Kemensos, Rachmat Koesnadi, mengapresiasi komitmen UINDak. Ia menilai pembahasan draf MoU berjalan baik.
Ia juga menjelaskan, program lain dalam kolaborasi ini. Program tersebut mencakup pembinaan sekolah rakyat.
Kemensos mencatat tiga sekolah rakyat di Sulawesi Tengah. Salah satunya berada di Sentra Nipotowe, Kabupaten Sigi.
“Program ini membutuhkan penguatan mental dan spiritual. UIN Datokarama memiliki peran penting dalam aspek tersebut,” kata Rachmat.
Sementara itu, Satfsus Mensos Ishak Zubaedi Raqib menilai kerja sama ini penting. Ia menyebut, UINDak sebagai perguruan tinggi pertama di Sulawesi Tengah yang bekerja sama dengan Kemensos.
Ia berharap, UINDak dapat menjadi penggerak program pemberdayaan.
“Kerja sama dengan perguruan tinggi bukan hal baru bagi Kemensos. Kami berharap UIN Datokarama menjadi leader,” tutup Ishak.
Advertorial | Editor : Muh Taufan













