PRODUK karya warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Sulawesi Tengah kini hadir di ruang layanan publik. Pelbagai hasil pembinaan tampil di lounge Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu.
Kehadiran produk ini menunjukkan bahwa proses pemasyarakatan tidak berhenti pada pembinaan, tetapi berlanjut hingga pemberdayaan ekonomi.
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah (Kanwil Ditjenpas Sulteng) menghadirkan produk tersebut sebagai strategi membuka akses pasar. Langkah ini juga mendekatkan hasil pembinaan kepada masyarakat luas.
“Produk warga binaan harus kita dorong agar dikenal publik. Ini bukan hanya soal karya, tetapi juga proses pembinaan yang menghasilkan nilai ekonomi dan kemandirian,” ujar Plh Kepala Kanwil Ditjenpas Sulteng, Irpan dalam siaran pers yang Eranesia.id terima, Rabu (1/4/2026).
Pengelola lounge memajang pelbagai produk unggulan hasil karya warga binaan dan klien pemasyarakatan. Produk tersebut berasal dari Lapas, Rutan, LPKA, hingga Bapas se-Sulteng.
Mereka menampilkan kerajinan tangan, kain tenun, anyaman, serta produk olahan seperti keripik dan abon sebagai produk siap saing.
Kanwil Ditjenpas Sulteng juga mengaitkan langkah ini dengan peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 yang jatuh pada 27 April.
Dalam momentum ini, mereka mendorong Gerakan Cinta Produk Narapidana. Mereka menetapkan setiap hari Jumat sebagai “Hari Cinta Produk Narapidana”.
Melalui gerakan ini, jajaran pemasyarakatan menggunakan produk warga binaan dalam aktivitas sehari-hari. Kanwil juga mengajak masyarakat untuk ikut mendukung dan menggunakan produk tersebut.
Menurut Irpan, pembinaan yang efektif harus menjawab tantangan setelah masa pembinaan berakhir, terutama dalam aspek kemandirian ekonomi.
“Ketika warga binaan memiliki keterampilan dan produknya bernilai jual, peluang mereka untuk kembali ke masyarakat secara produktif semakin besar,” jelasnya.
Kanwil Ditjenpas Sulteng terus memperkuat program pemberdayaan. Mereka meningkatkan kualitas produk, memperbaiki kemasan, dan memperluas pemasaran melalui kolaborasi ekonomi kerakyatan.
Melalui langkah ini, pemasyarakatan tidak hanya berperan sebagai sistem pembinaan. Pemasyarakatan juga menjadi penggerak ekonomi inklusif yang memberi peluang kedua bagi warga binaan untuk bangkit dan mandiri.
Penulis : Muh Tauhid | Editor : Muh Taufan













