KIPRAH dan perjuangan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, yang dikenal sebagai Guru Tua, terus menginspirasi pengembangan pendidikan dan dakwah Islam di Indonesia, khususnya di kawasan timur Nusantara.
Pendiri Perguruan Islam Alkhairaat telaten dan sabar membina, mendidik, serta mengajar para muridnya. Dedikasi tinggi itu membentuk generasi berilmu dan berakhlak mulia.
Rais Syuriyah PBNU, KH Zainal Abidin, menilai keikhlasan Guru Tua dalam mengembangkan pendidikan dan dakwah di tengah masyarakat pantas diteladani.
Menurutnya, Guru Tua tidak hanya menekankan aspek keilmuan, tetapi juga menanamkan nilai sosial dan kemanusiaan.
“Beliau sangat menghargai dan menghormati budaya serta kearifan lokal, lalu menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Jika beliau menemukan hal yang bertentangan dengan nilai Islam, beliau meluruskannya dengan cara bijak,” ujar Guru Besar Universitas Islam Negeri Datokarama Palu itu di Palu, Rabu (1/4/2026).
Profesor Zainal menambahkan, Guru Tua menonjol karena sikap toleransi terhadap berbagai kalangan. Dalam praktik pendidikan di Alkhairaat, Guru Tua mempekerjakan seorang guru aljabar (matematika) non-Muslim untuk mengajar. Ia juga rutin memantau perkembangan proses belajar di kelas tersebut.
“Ini menunjukkan betapa beliau menjunjung tinggi sikap saling menghargai dan menghormati, termasuk tokoh lintas agama,” ungkap Zainal.
Guru Tua selalu menunjukkan semangat rela berkorban demi kemajuan pendidikan dan dakwah Islam. Para pengajar dan murid perlu terus menerapkan nilai-nilai itu, khususnya pada setiap peringatan haul Guru Tua, agar pendidikan, dakwah, dan kegiatan sosial di masyarakat berkembang.
“Warisan pemikiran dan perjuangan Guru Tua tetap hidup hingga kini dan menjadi pedoman bagi generasi penerus dalam membangun peradaban yang berilmu, toleran, dan berakhlak mulia,” tutup Zainal.
Rilis | Editor : Muh Taufan














