Gaya Hidup

Sering Jadi Perdebatan, Benarkah Amalan Hari Asyura Tidak Punya Dalil?

×

Sering Jadi Perdebatan, Benarkah Amalan Hari Asyura Tidak Punya Dalil?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi warga berdoa. Foto: Taufan Bustan/Eranesia.id

UMAR Islam menyambut Hari Asyura atau 10 Muharram sebagai salah satu momen mulia. Namun, cara mengisi hari ini sering memicu perdebatan. Sebagian orang terlalu bersemangat hingga membuat amalan tanpa dasar. Sebaliknya, sebagian lain mudah menyalahkan setiap amalan pada hari tersebut.

Lalu, benarkah amalan Asyura tidak memiliki dalil?

“Kita perlu membedakannya. Ada amalan yang memiliki dalil khusus terkait Asyura. Ada pula amalan yang tidak memiliki dalil khusus, tetapi termasuk amal saleh umum,” ujar Ustaz Ajir Ubaidillah melalui kanal YouTube miliknya dikutip dari Mediaindonesia.com, Kamis (25/6/2026).

Amalan Asyura dengan Dasar Khusus

Para ulama menyebutkan dua amalan yang memiliki kaitan khusus dengan hari Asyura:

1. Puasa 10 Muharram. Puasa Asyura merupakan amalan paling utama dan memiliki dasar kuat. Saat tiba di Madinah, Rasulullah SAW melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut. Mereka menghormati hari kemenangan Nabi Musa AS yang selamat dari kejaran Firaun.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa umat Islam lebih berhak menghormati Nabi Musa AS. Beliau kemudian berpuasa dan mengajak kaum muslimin untuk melaksanakannya. Imam Muslim meriwayatkan bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu.

2. Puasa 9 Muharram (Tasu’a). Umat Islam juga mendapatkan anjuran untuk berpuasa pada 9 Muharram. Sebelum wafat, Rasulullah SAW sempat berniat melaksanakan puasa ini pada tahun berikutnya untuk membedakan diri dari kaum Yahudi. Para ulama memahami niat serius Nabi ini sebagai dasar kesunnahan puasa Tasu’a.

3. Melapangkan Nafkah untuk Keluarga. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Allah SWT akan melapangkan rezeki selama setahun bagi orang yang memanjakan keluarganya dengan nafkah pada hari Asyura. Meski Imam al-Baihaqi menilai sanad riwayat ini lemah, banyaknya jalur periwayatan membuat sebagian ulama menjadikannya sebagai penguat.

Amalan Saleh Umum di Hari Asyura

“Amalan-amalan berikut tidak selalu memiliki dalil khusus dari Nabi SAW spesifik untuk hari Asyura,” tutur Gus Ajir, sapaan akrabnya.

Namun, umat Islam tetap boleh mengamalkannya karena statusnya sebagai ibadah umum yang baik:

  • Menyantuni Anak Yatim & Fakir Miskin: Mengusap kepala anak yatim dan memberi makan orang miskin dapat melembutkan hati yang keras.
  • Shalat Sunnah: Tidak ada ritual shalat khusus Asyura. Anda cukup memperbanyak shalat sunnah umum seperti tahajud, witir, atau rawatib.
  • Memperbanyak Sedekah: Berbagi makanan kepada tetangga atau kaum duafa selalu bernilai pahala setiap waktu.
  • Menjaga Kebersihan diri: Mandi, memotong kuku, memakai wewangian, dan berpakaian rapi merupakan bentuk adab menyambut hari mulia.
  • Silaturahim & Ziarah: Mengunjungi orang saleh atau guru untuk meminta doa, serta mempererat hubungan keluarga.
  • Bercelak: Menggunakan celak itsmid sewajarnya tanpa menganggapnya sebagai kewajiban agama.
  • Membaca Al-Qur’an: Mengisi waktu dengan memperbanyak bacaan Al-Qur’an, termasuk Surat Al-Ikhlas.
  • Menjenguk Orang Sakit: Menunjukkan empati sosial dan mendoakan kesembuhan sesama.

Kesimpulan

Penilaian bahwa semua amalan Asyura tidak berdalil adalah keliru. Puasa 9 dan 10 Muharram memiliki dasar yang sangat kuat. Sementara itu, amalan positif lainnya bersandar pada dalil ibadah umum.

Umat Islam sebaiknya mengisi Hari Asyura secara proporsional. Jangan mudah menuduh orang lain tanpa ilmu, dan jangan pula mengada-adakan ritual tanpa dasar hukum yang jelas.